BangkaPos/

Kebun Terpadu Desa Sekar Biru Kembalikan Lahan Kritis Menjadi Produktif

Konsep kebun terpadu yang dibangun Andri warga Desa Perumnas Kecamatan Parittiga mampu menyelamatkan lahan kritis paska tambang.

Kebun Terpadu Desa Sekar Biru Kembalikan Lahan Kritis Menjadi Produktif
Bangkapos.com/Riyadi
Puluhan ekor sapi dipelihara di lahan kritis eks tambang, yang dikelola Andri warga Desa Sekarbiru Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat. Kotoran sapi dimanfaatkan untuk membantu menyuburkan tanah di lahan kritis paska tambang.

Laporan Wartawan Bangka Pos Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Konsep kebun terpadu yang dibangun Andri warga Desa Perumnas Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat, mampu menyelamatkan lahan kritis paska tambang, menjadi lahan yang produktif.

Kebun terpadu tersebut, sudah dirintis sejak beberapa tahun lalu, meskipun pengelolaannya harus dilakukan secara bertahap.

Untuk menjadi kebun terpadu di lahan kritis paska tambang, tidak cukuk hanya ditanami dengan berbagai jenis tanaman saja.

Di lahan kritis yang permukaannya masih berupa tanah berpasir, tapi sudah tumbuh rumput liar, maka perlu dilakukan proses pengolahan lahan, yakni dengan membalik tanah berpasir dan menimbun rumput, tujuannya agar rumput yang balik (di bawah tanah berpasir) akan menjadi humus.

Proses menjadikan lahan kritis menjadi lahan yang memiliki kandungan humus, tidaklah sulit.

Bila dihamparan tanah berpasir itu sudah tumbuh atau sarat dengan rumput liar jenis apapun, maka tanahnya cukup dibalik apakah dengan proses dicangkul atau juga bisa dibajak menggunakan peralatan tekonologi pertanian.

Tapi rumput tadi, juga harus ditutup dengan tanah pasir yang dibalik.

"Modelnya seperti itu saja, rumputnya dibalik dan ditutup dengan tanah yang dicangkul, itulah cara awal untuk membuat tanah berpasir itu bisa menyimpan kandungan humus, kalau humusnya terus dibentuk, maka lahan tadi akan bermanfaat dan bisa menjadi lahan subur, dan rumput baru akan tumbuh lagi," jelas Andri kepada bangkapos.com, Sabtu (15/4/2017).

Namun, proses tersebut, juga perlu didukung menggunakan pupuk kandang. Untuk menyiapkan pupuk kandang, siapkan beberapa ekor sapi di lahan itu.

"Kotoran sapi dan air kencingnya akan sangat membantu dalam menyuburkan tanah, karena kotoran dan air kecing sapi bisa jadi pupuk, disitulah bisa terjadi proses simbosis mutualisme," ujar Andri.

Lima hektar lahan kritis yang dikelola Andri, saat ini sudah menjadi lahan yang produktif, berbagai jenis tanaman palawija, buah-buahan, tumbuh subur di lahan itu.

Puluhan ekor sapi juga sudah lama dipelihara, selain bisa dijual, kotorannya juga bermanfaat untuk membantu menyuburkan tanah.

Penulis: riyadi
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help