BangkaPos/
Home »

Lokal

» Bangka

Bocah-bocah SD Ini Tetap Sekolah Walau Harus Berjalan Kaki hingga Lima Kilometer

Seiring waku, anak-anak petani ini tumbuh dan berkembang. Mereka tak hanya butuh kasih sayang orangtua, tapi juga pendidikan.

Bocah-bocah SD Ini Tetap Sekolah Walau Harus Berjalan Kaki hingga Lima Kilometer
bangkapos.com/Fery Laskari
Bocah-bocah pelajar SDN 9 Bakam Bangka tetap bersekolah walau harus menempuh jarak 5 KM, dalam kondisi jalan rusak, berlubang dan tergenang lumpur. Sebagian mereka naik sepeda, bahkan berjalan kaki agar sampai ke tujuan. Tampak pelajar SDN 9 Bakam melintasi jalan perkebunan kelapa sawit, Kamis (20/4/2017). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Berawal dari belasan tahun silam, ketika 'kejayaan' perusahaan perkebunan kelapa sawit plasma, PT Sumarco Makmun Indah (SMI). Ketika itu, ratusan kepala keluarga, petani plasma dari luar Bangka, menjadi penghuni kawasan ini.

Mereka bertransmigran pada program plasma, dan menetap di beberapa paket pemukiman yang sudah ditentukan. Suami, istri dan anak, hidup dalam kawasan yang sama, dikelilingi pepohonan sawit, dan belantara yang notabene masih perawan di masa itu.

Seiring waku, anak-anak petani ini tumbuh dan berkembang. Mereka tak hanya butuh kasih sayang orangtua, tapi juga pendidikan. Dari situ pula wacana berdirinya sekolah yang kemudian dinamakan, SDN 9.. Sekolah ini berdiri pada Kawasan Kebun Paket V Desa Dalil Kecamatan Bakam Bangka.

Walau, tak banyak lagi petani plasma transmigran yang bertahan, namun sekolah, SDN 9 tetap dibutuhkan. Kondisi dulu dan sekarang memang berbeda, namun kebutuhan akan pendidikan, tak pernah berubah, tak hilang dimakan waktu.

Raut-raut wajah siswa-siswi di sekolah ini mencerminkan sesuatu yang terbilang alami. Mereka adalah sosok anak-anak bangsa yang terlahir dari kalangan buruh pekerbunan sawit plasma. Sebagian dari orang tua mereka mengandalkan hasil kebun, dan sebagian lagi bertahan dari hasil dagang atau pekerjaan tak tetap lainnya. Dapat dibilang, hanya sebagian kecil orangtua para murid hidup pada golongan menengah. Sedangkan sisanya, (maaf) bisa dipastikan prasejahtera.

Banyak diantara para orang tua murid tak mampu beli sepeda. Alhasil, untuk pergi ke sekolah, para murid terpaksa berjalan kaki, walau harus menempuh perjalanan hingga lima kilometer. Sementara kondisi jalan dari rumah menuju sekolah sangat memprihatinkan, tanah kuning, berlubang, bahkan tergenang lumpur.

"Walaupun begitu, semangat belajar mereka tetap tinggi," kata Kepala Sekolah Negeri (SDN 9) Bakam, Samok ketika dikonfirmasi Bangka Pos Group, Jumat (21/4/2017). Kondisi lingkungan sekolah di SDN 9 Bakam, diakuinya, berbeda dengan sekolah lain di perkotaan. Sekolah ini dapat dibilang 'terisolir' atau jauh dari pemukiman penduduk.

"Jarak tempuh mereka (pelajar) kalau dari pemukiman Paket Tiga ke sekolah, kurang lebih tiga kilomeneter. Sedangkan jarak tempuh dari Pemukiman Paket Empat, itu sekitar lima lima kilometer. Sebagian murid pergi ke sekolah diantar orangtua menggunakan sepeda motor, dan sebagian lagi naik sepeda," kata Samok.

Tapi tidak semua orang tua siswa memiliki kendaran seperti itu. Beberapa diantara mereka hanya memiliki sepeda dayung, bahkan sama sekali tak punya kendaraan. "Bagi yang punya sepeda, mereka bisa pergi ke sekolah naik sepeda. Tapi bagi yang tidak ada sepeda, terpaksa jalan kaki pergi ke sekolah," katanya.

Samok dan para guru bisa memaklumi kondisi murid-muridnya. Keadaan perekonomian orangtua murid yang berada di ambang rata-rata menengah kebawah, membuat pihak sekolah harus banyak memberikan kebijaksanaan atau toleransi khusus.
.
"Ada beberapa orang tua murid yang numpang hidup disini (di Bakam Bangka). Pekerjaannya cuma ambil upah mutik brondol sawit (buruh pegumpul sisa butiran buah sawit yang jatuh). Walaupun orangtua mereka prasejahtera, namun semangat belajar murid-murid disini tetap tinggi," kata Samok, seraya membeberkan beberapa prestasi yang pernah diraih oleh anak didiknya.

Menurut Samok, tercatat sebanyak 172 orang pelajar di SDN 9 Bakam. Mereka, terdiri dari 102 siswa dan 70 siswi. Para pelajar ini tinggal di berbagai desa yang tersebar dalam Pemukiman (Paket), yaitu Paket Satu, Paket Tiga, Paket Empat dan Paket Lima. Sementara tenaga pengajar, terdiri dari empat orang guru PNS, lima guru honor, termasuk TU dan bagian perpustakaan.

"Para pelajar ini tinggal di berbagai paket yang berada di Desa Tiangtara, Desa Dalil, Desa Neknang dan Desa Saing. Semuanya sekolah disini (SDN 9)." kata Samok menyebutkan, rata-rata orangtua muid di SDN 9 adalah perantau asal Jawa, Lampung, Sulawesi dan daerah lainnya..

Samok mengakui, jarak tempuh para pelajar untuk mengecam pendidikan terbilang jauh. Apalagi, keberadaan sekolah, berdiri pada kawasan terpencil. Selain, kondisi jalan yang tak memadai, jembatan nyaris putus,
kendala lain yang dihadapi adalah pada saat-saat tertentu, khususnya ketika musim hujan tiba.

"Kalau hujan pagi hari, mereka tetap sekolah. Mereka berangkat ke sekolah kalau hujannya sudah reda. Walaupun terlambat datang ke sekolah, mereka tetap diperbolehkan masuk kelas untuk belajar (dispensasi). Kami para guru guru tidak mempermasalahkan hal itu," kata Samok.

Penulis: ferylaskari
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help