Ternyata Keliru Potong Bagian Puncak Tumpeng Terlebih Dulu, Ini Alasannya

Masyarakat Indonesia tentu amat familiar dengan tumpeng yang biasanya terdiri nasi kuning dilengkapi lauk-pauk dan sayurnya.

Ternyata Keliru Potong Bagian Puncak Tumpeng Terlebih Dulu, Ini Alasannya
Bangkapos/Agus Nuryadhyn
Tumpeng HUT ke-16 Provinsi Kepulauan Babel. 

BANGKAPOS.COM - Masyarakat Indonesia tentu amat familiar dengan nasi tumpeng yang biasanya terdiri nasi kuning dilengkapi lauk-pauk dan sayurnya.

Dalam budaya Jawa, tumpeng merupakan singkatan dari kalimat 'yen meTu kudu meMPENG'.

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kalimat  tersebut berarti ‘ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.’

Selama ini cara mengonsumsi tumpeng yang banyak diketahui di masyarakat kita adalah dengan cara memotong puncaknya terlebih dahulu, baru diberikan kepada orang yang paling dihormati atau disayangi.

Prosesi ini bahkan dianggap sangat penting. Bahkan memotong nasi tumpeng menjadi acara puncak sebuah perayaan.

Namun, tahukah Anda, ternyata cara memotong puncak tumpeng tersebut salah besar? Hal itu menyalahi arti filosofi dari tumpeng itu sendiri.

"Tumpeng berasal dari Jawa, tapi terpengaruh pengaruh budaya Hindu India," kata Murdjati Gardijito, peneliti di pusat studi pangan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta saat berbincang dengan KompasTravel.

Murdjati menyebutkan bahwa bentuk tumpeng yang kerucut, lebar di bawah dan runcing di atas, sebenarnya adalah representasi dari Gunung Mahameru di India yang dianggap sebagai tempat sakral, tempat bermukimnya para dewa.

"Bagian atas tumpeng terdiri hanya dari satu butir nasi. Itu adalah simbol dari Tuhan yang Maha Esa. Makin ke bawah adalah umat dengan berbagai tingkat kelakuannya. Makin banyak adalah umat yang kelakuannya tidak begitu baik, yang sempurna hanya sedikit. Makanya tidak boleh dipotong puncaknya," kata Murdjati.

Sebab, apabila memotong tumpeng dari puncaknya, justru menyalahi filosofi tumpeng yang merupakan representasi hubungan manusia dengan Tuhan.

Halaman
12
Editor: Alza Munzi
Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help