Apa Kabar Daeng Azis Penguasa Kalijodo? Daerah Eks Kekuasaannya Kembali Dikuasai Preman

Selain taman rusak karena ulah PKL dan pengunjung, taman di Kalijodo juga dikuasai oknum preman.

Apa Kabar Daeng Azis Penguasa Kalijodo? Daerah Eks Kekuasaannya Kembali Dikuasai Preman
Tribunnews.com
Eks penguasa Kalijodo, Daeng Azis dan kawasan Kalijodo di Jalan Kepanduan II, Tambora, Jakarta Barat, kini. 

"Ternyata mereka kembali lagi (jadi juru parkir liar di Kalijodo). Ya besok kami lakukan gelar penertiban untuk selanjutnya melakukan penjagaan dengan lintas jaya," kata Sigit.

Dia menuturkan, jumlah juru parkir liar di Kalijodo tidak menentu. Saat hari libur, kata Sigit, biasanya jumlah juru parkir liar di lokasi tersebut mencapai puluhan orang.

"Hasil pengamatan saya, ini (juru parkir liar) masih pemain lama. Grupnya Daeng Aziz sama Daeng Jamal," kata Sigit.

Apa Kabar Daeng Azis

Sebelumnya, tokoh Kalijodo, Abdul Azis alias Daeng Azis, mengomentari perubahan Kalijodo dari kawasan perjudian dan prostitusi menjadi ruang terbuka hijau dan ruang publik terpadu ramah anak.

"Kalau kawasan Kalijodo ini, sebelumnya saya tetap menerima (perubahan). Saya paham tentang peradaban," kata pria asal Jeneponto, Sulawesi Selatan ini kepada Kompas.com di acara kampanye calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (8/4/2017).

Menurut Azis, dirinya kerap dikaitkan dengan kawasan Kalijodo.

Dalam kesempatan ini, dia menjelaskan bahwa dirinya sudah lama tidak tinggal di Kalijodo, melainkan menetap di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

"Sejak tahun 1997, saya tidak tinggal di Kalijodo, tapi di BSD (Bumi Serpong Damai)," tutur Daeng Azis.

Daeng Azis enggan berkomentar lebih banyak mengenai Kalijodo.

Adapun dahulu, Azis memiliki sejumlah bisnis dan tempat berupa kafe di kawasan Kalijodo.

Bisnisnya kemudian terpaksa ditutup karena penertiban oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Ahok.

Daeng Azis juga tersandung kasus pencurian listrik dan diputus bersalah dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 30 Juni 2016 silam.

Dia dinyatakan bersalah dan melanggar Pasal 51 ayat 3 Undang Undang nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan sesuai tuntutan jaksa penuntut umum.

Lalu, diputus hukuman penjara selama 10 bulan dan denda Rp 100 juta.

(Tribun Timur/Edi Sumardi)

Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved