Kisah Ketika Indonesia Merangkul Beruang Merah Demi Memangku Tanah Mutiara Hitam

1 Mei 1963 merupakan peristiwa sejarah penting bagi bangsa ini yang tak akan pernah terlupakan.

Kisah Ketika Indonesia Merangkul Beruang Merah Demi Memangku Tanah Mutiara Hitam
www.indomiliter.com
KRI Irian, kapal terbesar di belahan bumi selatan yang pernah dimiliki Indonesia. Kapal ini digunakan secara aktif untuk persiapan merebut Irian Barat (operasi Trikora) dari tangan Belanda. 

BANGKAPOS.COM--1 Mei 1963 merupakan peristiwa sejarah penting bagi bangsa ini yang tak akan pernah terlupakan.

Dengan memakan waktu cukup lama, Indonesia berupaya keras untuk dapat merangkul negeri beruang merah, Uni Sovyet (sekarang Rusia) demi memangku ‘Tanah Mutiara Hitam’ (dulu Irian Barat) yang dikuasai Belanda.

Pasca dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan negara Indonesia oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, Belanda belum mau mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia itu baik secara de facto maupun de yure.

Empat tahun berselang, pengakuan sekaligus penyerahan kedaulatan (soevereiniteitsoverdracht) Belanda atas kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagai sebuah entitas negara yang bedaulat secara resmi dilakukan pada 27 Desember 1949, di Istana Dam, Amsterdam, Belanda.

Peristiwa sejarah 1 Mei 1963 di Irian Barat, Bendera Indonesia dikibarkan berdampingan dengan Bendera UNTEA (PBB).
Peristiwa sejarah 1 Mei 1963 di Irian Barat, Bendera Indonesia dikibarkan berdampingan dengan Bendera UNTEA (PBB). (Dok. Kementerian Luar Negeri)

Namun pengakuan dan penyerahan kedaulatan tersebut masih menyisakan permasalahan. Belanda belum mau melepaskan Hollandia (nama Papua Barat periode 1910-1962) sebagai bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia.

Belanda pada saat itu berdalih bahwa pulau beserta suku-suku yang mendiami Hollandia memiliki kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan bekas wilayah Hindia-Belanda lainnya.

Tak tinggal diam, Presiden Soekarno pun kemudian merancang misi untuk membebaskan tanah ‘Mutiara Hitam’ Irian Barat (akronim yang diberikan Frans Kaisiepo, yakni Ikut Republik Indonesia Anti Nederland/IRIAN) itu dari tangan Belanda.

Strategi pertama yang dilakukan adalah melalui jalur diplomasi dan bila tak menuai keseuksesan, maka terpaksa strategi kedua yang harus ditempuh, yakni dengan jalur konfrontasi.

Langkah awal pembebasan Irian Barat dilakukan Soekarno dengan melakukan perundingan bilateral secara langsung dengan Belanda pada tahun 1950.

Namun sayang, cara ini tidak menuai keberhasilan. Bahkan secara sepihak, pada tahun 1952 Belanda memasukkan Irian Barat ke dalam wilayahnya.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Angkasa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved