BangkaPos/

Kisah Penyair Chairil Anwar Memilih Hidup Bersimpang Jalan pada Zamannya

Kita mengenal Chairil sebagai pujangga yang berkepribadian kusut dan tak pernah punya pilihan hidup

Kisah Penyair Chairil Anwar Memilih Hidup Bersimpang Jalan pada Zamannya
www.pinterest.com
Chairil Anwar 

BANGKAPOS.COM - Kita mengenal Chairil sebagai pujangga yang berkepribadian kusut dan tak pernah punya pilihan hidup.

Apakah benar demikian?

“Apa yang pertama kali dilakukan Chairil saat tiba di Batavia?” tanya Hasan Aspahani yang memantik diskusi pada sebuah acara bincang sore.

Peserta diskusi pun duduk termanggu menanti jawabnya. Semesta hening untuk beberapa saat.

Hasan sudah dikenal sebagai jurnalis dan penyair kawakan.

Sejumlah buku puisinya telah terbit, dan beberapa sajaknya digubah dan direkam oleh Ananda Sukarlan.

Namun, belakangan namanya melejit kembali dalam serangkaian diskusi pustaka dan sastra sejak buku biografi Chairil yang disusunnya terbit pada akhir tahun silam.

Chairil mulai merantau dari Medan ke Batavia pada akhir 1941, seperti yang dituturkan Hasan dalam bincang sore itu.

Saat itu usia Chairil sudah 19 tahun. Dia  melanjutkan sekolah ke MULO di kawasan Pasar Baru. "Dia tidak tamat," kata Hasan, "tetapi dia bisa berbahasa Belanda, berbahasa Inggris, dan Prancis."

Kita mungkin selama ini membayangkan Chairil sebagai seorang pemuda yang tak punya pilihan.

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help