BangkaPos/

Kisah Penyair Chairil Anwar Memilih Hidup Bersimpang Jalan pada Zamannya

Kita mengenal Chairil sebagai pujangga yang berkepribadian kusut dan tak pernah punya pilihan hidup

Kisah Penyair Chairil Anwar Memilih Hidup Bersimpang Jalan pada Zamannya
www.pinterest.com
Chairil Anwar 

Bayangan itu tampaknya salah. Chairil adalah pemuda yang memiliki banyak pilihan.

Ayahnya, yang bernama Toeloes bin Haji Manan, menjabat sebagai Controleur—setingkat bupati pada zaman sekarang.

Dia mengemban tugas sebagai inspektur penghubung pemerintah Hindia Belanda dengan para penguasa lokal.

"Orang yang senyaman itu hidupnya, pendidikannya apa saja bisa," Hasan menambahkan, "tetapi memilih menjadi penyair dengan segala risiko."

Sebagai seorang anak lelaki satu-satunya, Chairil sejatinya punya banyak jalan hidup.

Apalagi pada zaman itu, orang-orang Sumatera banyak yang melanjutkan pendidikan ke Belanda, termasuk Sutan Sjahrir—pamannya sendiri.

Tampaknya semesta telah menelikungnya. Dia ditakdirkan memang harus hidup di Batavia. Dia ditakdirkan menyintas suatu kehidupan yang tidak nyaman.

“Tapi, nasibnya...,” ujar Hasan. “Jepang masuk pada awal 1942.” Sejak saat itu komunikasi Jawa dan Sumatera putus.

Perkara surat-menyurat hingga urusan kiriman uang pun ikut pupus.

Seluruh pelajar Sumatera yang berada di Jawa dipulangkan oleh Jepang dengan angkutan dua kapal besar.

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help