BangkaPos/

Menguak Kisah Bus Legendaris nan Sarat Kenangan Pownis dan Sabang Jaya

Generasi 80an Pulau Bangka tentu masih ingat bus kayu legendaris yang melayani angkutan penumpang antar kota

Menguak Kisah Bus Legendaris nan Sarat Kenangan Pownis dan Sabang Jaya
Bangkapos.com
Bangkai bus PO Sabang Jaya yang dimiliki Lie Po Sang di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. 

Kini, Pownis kayu yang tersisa hanya dua unit, Pownis 10 dan Pownis 15. Itupun tidak aktif lagi beroperasi. Pownis lainnya hilang tak berbekas.

Pewaris usaha

DIINCAR KOLEKTOR -- Bus PO Sabang Jaya adalah bus angkutan umum yang melayani rute Toboali - Pangkalpinang kurun waktu 1954-2000. Bus ini diincar kolektor mobil tua, dan dihargai Rp 50 juta per unitnya oleh pemiliknya.
DIINCAR KOLEKTOR -- Bus PO Sabang Jaya adalah bus angkutan umum yang melayani rute Toboali - Pangkalpinang kurun waktu 1954-2000. Bus ini diincar kolektor mobil tua, dan dihargai Rp 50 juta per unitnya oleh pemiliknya. (Bangkapos/Riki Pratama)

Lie Po Sang berusaha mengenang kembali masa kejayaan bus PO Sabang Jaya yang sangat fenomenal kurun waktu tahun 1954-2000 itu.

Ia adalah pewaris usaha yang dirintis ayahnya Lie Sung Fuk.

Lie Po Sang yang bernama asli Rusli Hasan ini menceritakan, pertama kali ayahnya memiliki mobil dengan merek Dotge pada tahun 1946 dengan plat polisi B 942, yang merupakan mobil truk, pabrikan USA yang sering digunakan mengantarkan kayu ke Kota Pangkalpinang.

Selain memiliki mobil truk, ayah Lie Po Sang juga memiliki bus kayu Cevrolet produksi tahun 1947, yang merupakan bus pertama kali melayani trayek Pangkalpinang-Toboali sejak tahun 1954 hingga 2000.

"Bus itulah pertama mengantarkan warga Toboali ke Pangkalpinang, mobil milik ayah saya merek Chevrolet, saat itu kami hanya melayani satu sip. Artinya apabila sudah mengantar penumpang ke Pangkalpinang kembali ke Toboali baru besok harinya, kami menginap di sana, di gang Singapur, di situ ada hotel di situlah kami tidurnya," katanya belum lama ini.

Ketika menarik Bus, Lie Po Sang mengatakan tidak memiliki jadwal tetap untuk berangkat, pasalnya ketika dilihat penumpang sudah penuh, ia langsung berangkat kapanpun. Muatan bus ini bisa menampung penumpang hingga 35-40 orang dialamnya.

"Aku tamat sekolah tahun 1958 saat itu aku sudah membantu ayah saya bekerja," ujarnya.

Namun sejalan dengan aturan pemerintah pada saat itu, bahwa bus yang menyediakan jasa angkutan harus berbentuk kelompok tidak boleh perorangan, sehingga itulah ia tergabung dalam PO Bintang Selatan yang berakhir hingga tahun 1970.

Setelah dari PO Bintang Selatan, barulah Hasan membuat kelompok sendiri yaitu PO Sabang Jaya yang hanya melayani Pangkalping ke Toboali PP.

"Dulunya per orangan tidak diperbolehkan lagi, jadi harus buat kelompok oleh pemerintah, harus memenuhi lima kendaraan, awalnya di PO Bintang Selatan, yang di ketuai oleh almarhum Jubir warga Desa Air Bara, sekitar tahun 1956, pada saat itu melayani trayek Pangkalpinang-Mentok, Pangkalpinang-Toboali, pusatnya di Pangkalpinang. Lalu saya keluar dari PO Bintang Selatan menjadi PO Sabang Jaya mulainya tahun 70-an," ucapnya, sambil menunjukkan satu persatu foto kenangan busnya yang banyak dipajang di dinding rumahnya.

Kemudian pada saat ayahnya meninggal pada tahun 1984, Lie Po Sang mulai meneruskan usaha jasa layanan angkutan bus yang saat itu masih perorangan.

Seiring berjalannya waktu, bus milik Lie Po Sang terus bertambah, hingga ia memiliki 12 izin trayek untuk mobilnya.(*)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help