BangkaPos/
Home »

Techno

» News

Kisah Pesawat Pembom Tu-95, si Beruang Tua yang Setia Menggoda Paman Sam

Walaupun sosoknya kelihatan sudah ketinggalan zaman, tidak ada yang meragukan kapabilitas pembom jarak jauh bermesin turboprop

Kisah Pesawat Pembom Tu-95, si Beruang Tua yang Setia Menggoda Paman Sam
Angkasa
Pembom Tu-95 

Penampilan perdana di publik terjadi di event pameran dirgantara Tushino – para pengamat Barat dibuat terkaget-kaget karena Uni Soviet berhasil membuat pesawat pembom strategis dengan pilihan mesin turboprop yang tidak biasa.

Tu-95 pun mendapatkan kode Bear alias Beruang, nama yang melekat kepada seluruh varian dan keturunan pembom unik ini.

Melihat sebuah Tu-95 yang sedang taxiing dengan ukurannya yang besar dan seluruh mesinnya menyala dengan kebisingan yang luar biasa sudah menakutkan, apalagi jika harus berhadapan dengannya di udara.

Secara desain, Tu-95 menggunakan desain fuselage seperti lisong yang terbuat dari alumunium dan magnesium. Kompartemen yang diberi tekanan hanya bagian depan dan belakang untuk juru tembak.

Ruang penyimpanan bom tidak bertekanan dan oleh karena itu membatasi pergerakan awaknya. Versi final Tu-95 ditenagai dengan mesin NK-12, yaitu versi produksi dari TV-2.

Setiap mesin menggerakkan dua set propeller yang masing-masing terdiri dari empat bilah dan dapat digunakan untuk membantu pengereman pada saat Tu-95 mendarat di landasan pendek.

Setiap mesin ini memiliki sistem pemadam sendiri dan dinding penahan api, sehingga bila tertembak tidak akan menjalar ke bagian lain.

Sebagai pesawat pembom, Tu-95 mampu menjalankan tugas pemboman konvensional ataupun nuklir. Kapasitas gotong bom maksimalnya adalah 20 ton, walaupun normalnya hanya 5 ton saja. Untuk pemboman masif, Tu-95 bisa membawa 45 bom 250kg dalam sekali jalan.

Untuk misi pemboman nuklir, ruang bom Tu-95 dilengkapi dengan pendingin udara, serta kokpitnya dilengkapi dengan visor untuk perlindungan dari cahaya ledakan bom nuklir.

Pemboman dapat dilakukan dengan bantuan radar Rubidy-MM yang dipasang pada fairing di bawah hidung.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Angkasa
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help