BangkaPos/
Home »

Techno

» News

Kisah Pesawat Pembom Tu-95, si Beruang Tua yang Setia Menggoda Paman Sam

Walaupun sosoknya kelihatan sudah ketinggalan zaman, tidak ada yang meragukan kapabilitas pembom jarak jauh bermesin turboprop

Kisah Pesawat Pembom Tu-95, si Beruang Tua yang Setia Menggoda Paman Sam
Angkasa
Pembom Tu-95 

Sistem pertahanan pesawat terdiri dari tiga titik yaitu di ekor serta bagian atas dan bawah fuselage belakang. Tiap titik dilengkapi dengan dua kanon AM-23 kaliber 23mm dengan kapasitas magasen mencapai 2.500 peluru dan diawaki oleh seorang juru tembak.

Awak pesawat lainnya adalah pilot, kopilot, dua orang navigator, seorang teknisi, operator radio, dan seorang operator sistem pertahanan pesawat. Tidak tersedia kursi lontar bagi awaknya sehingga bila hendak menyelamatkan diri, semua harus lompat keluar pesawat.

Tu-95M Bear-A yang merupakan generasi pertama dari keluarga Bear dilanjutkan oleh Tu-95K Bear-B yang mampu membawa rudal jelajah Kh-20 (NATO: AS-3 Kangaroo) di perutnya pada 1956.

Tu-95K mengalami modifikasi pada bagian bawah hidung untuk membawa radar Yad (NATO: Crown Drum) yang mengarahkan rudal Kh-20.

Tu-95K disempurnakan menjadi Tu-95KD dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara karena jarak tempuhnya melorot saat harus membawa Kh-20.

Varian definitifnya adalah Tu-95K-22 Bear-G dengan kemampuan gotong rudal supersonik Kh-22 (NATO: AS-4 Kitchen) sebanyak tiga buah pada pylon di perutnya.

Varian selanjutnya yaitu Tu-95KM Bear-C muncul pada 1960-an, dengan penambahan blister atau tonjolan kaca di tiap sisi bagian belakang pesawat.

Desain Tu-4 diperbesar, dengan desain sayap yang kini dibuat lebih sayung untuk meningkatkan kecepatan pesawat.

Sebagai sumber tenaga, pembom desain Tupolev ini ditenagai justru oleh mesin turboprop Kuznetsov TV-2 yang dikopi dari desain Jerman yaitu mesin Junkers 109-022.

Inilah mesin turboprop terkuat yang ada di muka bumi saat ini, dimana tenaganya disalurkan ke dua set propeller yang berputar secara kontra rotasi.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Angkasa
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help