BangkaPos/

Takut Diselingkuhi Lalu Coba Jebak Suami, Tapi Rahasia yang Terungkap Sungguh Mengejutkan

Jangan berani berbohong sekalipun padaku, jika tidak akibatnya bisa sangat serius." sembari bergumam tidak..tidak berani

Takut Diselingkuhi Lalu Coba Jebak Suami, Tapi Rahasia yang Terungkap Sungguh Mengejutkan
viral4real

Lalu mendorongnya ke dalam parit.
Setelah ibunya tahu, setiap hari berjalan beberapa mil menunggu di depan gerbang sekolah untuk menjemputnya.
Orangtua dari anak-anak juga sering mengganggu ibunya yang buta, lalu juga sering melempar batu kecil kepada ibunya.
Ibunya selalu melindungi Wen dalam pelukannya tidak membiarkan batu melukai Wen.
Ibunya selalu berpesan kepadanya, orang lain boleh menganggu kamu, kamu harus sabar.

Jangan melawan mereka, ayah dan ibumu buta, takut jika nanti mereka membalas lebih parah terhadap keluarga kita.
Ayah juga memberi nasehat kepadanya bahwa keluarga mereka tidak mampu, terima saja jika dianiaya, jangan memberikan diri kamu sendiri kesulitan, tumbuh dengan baik-baik dan damai.
Wen sangat menaati pesan orang tua nya, di sekolah ia diam-diam belajar, dan tidak mencari masalah dengan teman sekolahnya, setelah pulang sekolah ia menggandeng tangan dan menuntun ibunya pulang ke rumah.
Untungnya, dalam belajar dia cukup baik, ketika ia menyelesaikan pendidikan SD, ia dinyatakan masuk sekolah jurusan menengah terbaik yang berlokasi di luar pegunungan di luar kota.

Orangtuanya tidak memiliki uang, lalu di desanya mencari bantuan dengan tetangga-tetangga, keadaan di desanya juga sulit, juga tidak bisa banyak mendapatkan bantuan.
Kepala desa akhirnya memberikan orang tuanya sebuah sertifikasi palsu, yang menyatakan Wen sebagai anak yatim piatu dengan begitu sekolah dapat meberinya keringanan.

Dengan beginilah, arsip-arsip Wen bertuliskan ia adalah seorang anak yatim piatu.
Kemudian, lambat laun Wen telah masuk Universitas, karena di arsipnya menyatakan identitasnya seorang anak yatim, dengan begitu biaya kuliahnya digratiskan.
Sampai bertemu dengan istrinya di kampus dan akhirnya menikah, istrinya sampai sekarang masih berpikiran ia adalah seorang yatim piatu, dan tetap mau menerimanya.
Dia sangat ingin menjelaskan semuanya kepada istrinya, namun takut disalahpahami istrinya, karena istrinya sering mengatakan, "Jangan berani berbohong sekalipun padaku, jika tidak akibatnya akan serius."

Orang tua Wen tahu dia menikah, ia takut orang memandang rendah orang tuanya, lalu juga takut membawa malu kepada mereka sendiri, dan orang tuanya berkata.
"Kalau tidak kamu boleh sebut kami sebagai paman dan bibi kamu."
Saat menikah, Wen hanya bisa menyamarkan orang tuanya sebagai bibi dan paman dari keluarga jauh agar dapat datang ke pesta pernikahannya.
Lalu Li biasanya, harus menggunakan nama samaran yang lain untuk pulang melihat kedua orang tuanya, dan juga secara diam-diam mengirim sejumlah uang dan barang kepada orang tuanya.

Namun di balik itu Wen tidak berani menceritakan kepada istrinya.
Hari ini, di luar perjalanan bisnis, lalu berdekatan dalam rangka Festival Musim Semi.
Wen terpintas memikirkan orang tuanya sendirian di rumah, perasaannya tidak tenang sama sekali, lalu ia pergi ke Warung Internet untuk bersantai.
Disisi lain, di depan komputer Li tidak bisa menahan tangisnya lagi, dia bergegas mengganti pakaian dan berlari keluar pintu langsung pergi ke stasiun, membeli tiket ke kampung halaman Wen.

Sampai beberapa kali gonta-ganti mobil, dan juga memakan hampir sehari perjalanan di gunung, akhirnya sampai ke kampung halamannya Wen.

Tidak jauh, sesampai di depan desa, ia melihat sebuah pondok yang terbuat dari jerami, di depannya duduklah sepasang suami istri yang buta sedang merangkul keranjang.

Pasti orang tua yang buta itu adalah orang tua Wen, Li sudah tidak dapat menahan air mata lalu menghampiri dan berlutut di depan mereka, ia berteriak dengan lantang, "Ayah, Ibu, aku akan membawamu pulang.".(*)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help