BangkaPos/
Home »

Video

Video: Modal Barang Bekas, Pria Tak Lulus SD Bisa Bikin Mesin Perajang Singkong

Saya termotivasinya kasihan melihat istri capek menggunakan kacep ubi. Jadi saya coba bikin mesin ini.

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Siapa sangka pria yang hanya mengenyam pendidikan kelas tiga sekolah dasar ini mampu menciptakan mesin perajang umbi-umbian dan kemplang yang berhasil menjadi juara pertama lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kabupaten Bangka.

Diakui Suripto ide membuat mesin ini berasal dari idenya sendiri karena kasihan melihat istrinya Puji menggunakan kacep alat manual untuk merajang singkong guna membuat kripik ubi.

Pria yang berprofesi sebagai mekanik sepeda motor ini kemudian mencoba membuat alat untuk memudahkan istrinya merajang singkong.

"Saya termotivasinya kasihan melihat istri capek menggunakan kacep ubi. Jadi saya coba bikin mesin ini. Untuk merajang 50 hingga 100 kilogram umbi-umbian dak sampai satu jam. 15 hari bisa menghasilkan 1 ton 300 kilogram," jelas Suripto yang membuat mesin perajang ini tahun 2016 lalu saat mempresentasikan hasil mesin ciptaannya kepada Tim Juri Lomba TTG tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (18/5/2017) di Dinas Sosial dan Pemerintahan Desa Kabupaten Bangka.

"Kami ambil upah merajang untuk umbi-umbian Rp 1.500 perkilogram kalau untuk kemplang Rp 2.000 perkilogram karena harus masuk frezer dulu agar keras dan hasil potongannya bagus," katanya.

Mesin ciptaannya ini memiliki dua mesin pemotong dengan menggunakan satu motor dinamo listrik.

Mesin ini juga bisa digunakan secara manual baik menggunakan tangan atau kaki.

Selain itu juga bisa merajang umbi-umbian dengan berbagai bentuk dan hasil yang jelek dengan yang bagusnya juga terpisah.

Mesin perajang ini menggunakan listrik berkapasitas 220 watt.

Namun diakui Suripto ia baru memproduksi satu mesin belum memperbanyak mesin ciptaannya ini.

"Belum pernah produksi orang yang pesan banyak. Untuk ongkos buatnya satu unit beli motor listriknya Rp 900.000 kurang lebih total biaya buatnya sekitar Rp 3 juta. Sebagian barangnya juga dari barang bekas seperti rantai sepeda, ayunan anak saya dan barang bekas lainnya," jelas Suripto yang berasal dari Lampung dan menetap di Desa Mabat sejak tahun 2.000.

Simak Videonya diatas:

Penulis: nurhayati
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help