BangkaPos/

Ingat, Selama Ramadan Inilah Dia 11 Amalan Sunnah yang Jangan Sampai Ditinggalkan

dalam menjalankan ibadah di bulan ramadan ada beberapa amalan sunnah yang sering ditinggalkan

Ingat, Selama Ramadan Inilah  Dia 11 Amalan Sunnah yang Jangan Sampai Ditinggalkan
nahimunkar.com
Buka puasa terbesar, sekitar 300 ribu muslim berbuka tiap hari selama Ramadan di Masjid Nabawi Madinah. 

Namun waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Mengenai sunnah mengakhirkan makan sahur di sini disebutkan dalam hadits, Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wa saalam bersabda, "Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur." (HR. Ahmad).

Dalil lain yang mendukung hadits di atas adalah praktek Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam makan sahur sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut, Dari Anas bin Malik, Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur.

Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, "Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?" Beliau menjawab, "Sekitar seseorang membaca 50 ayat." (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar berkata, "Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat." (Fathul Bari, 4: 138). Ibnu Abi Jamroh mengatakan, "Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu sunnah untuk diakhirkan."

2. Menyegerakan berbuka puasa

Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa jika waktunya sudah tiba. Dalilnya adalah dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka." (HR. Bukhari)

Bahkan menyegerakan waktu berbuka bertujuan untuk menyelisihi Yahudi dan Nashrani sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Islam tetap terus jaya ketika manusia menyegerakan waktu berbuka karen Yahudi dan Nashrani sering mengakhirkannya." (HR. Abu Dawud).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthob (kurma basah), maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air." (HR. Abu Daud).

Yang dianjurkan ketika berbuka adalah dengan ruthob (kurma basah), lalu tamr (kurma kering). Jika tidak didapati kurma, maka boleh digantikan dengan makanan yang manis-manis. Di sini dianjurkan dengan yang manis-manis ketika berbuka karena yang manis tersebut semakin menguatkan orang yang berpuasa. Sedangkan berbuka puasa dengan air bertujuan untuk menyucikan atau menyegarkan. Adapun jika berada di Makkah, dianjurkan berbuka dengan air zam-zam. Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 251-252.

3. Berdo’a ketika berbuka

Halaman
1234
Penulis: Iwan Satriawan
Editor: Iwan Satriawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help