BangkaPos/

Mengejutkan, Pria Ini Nekat Minta Izin Berzina Dengan Calon Mertuanya, Ini Penyebabnya

Akan lama kalau seperti itu. Saat usia saya sudah 30 tahun lebih, baru dapat melamar. Kalau seperti itu pak, 'izinkan saya berzina dengan anak bapak

Mengejutkan, Pria Ini Nekat Minta Izin Berzina Dengan Calon Mertuanya, Ini Penyebabnya
IST
Ilustrasi 

Hampir 5 menit diam tanpa suara dan ibu si gadis keluar dari tabir ruang utama membawa air serta makanan ringan. Si pria tersenyum kelat.

Ibu Gadis: Minum lah ini sedikit. Kamu sudah sarapan?
Si Pria: Ehh. Sudah buk. Terima kasih.
Ibu Gadis: Kamu ini malu-malu pula dengan kami.
Si Pria: Segan buk. hehe
Bapa Gadis: Kapan kamu akan kirim rombongan untuk lamaran?
Ibu Gadis: Eh .. Apa ayahnya ini?
Si Pria: Ehh. Duit belum ada. hehe
Bapa Gadis: Kamu bawa anak kami ke mana-mana. Apa kata orang nanti?

Si Pria: (Eh. Malu dengan orang atau malu dengan Allah, lebih takut kata orang daripada Allah yang menghukum). Kami naik mobil pak, tidak berdempet-dempatan. Boleh saya bertanya pak, sedikit?
Bapa Gadis: Boleh, tidak ada masalah.
Si Pria: Bapak dan Ibu menetapkan uang hantaran berapa ya?
Bapa Gadis: Kalau bisa Rp 65 juta.
Ibu Gadis: Ehh. Tapi kalau bisa makcik nak lebih tinggi sedikit dari tetangga sebelah.
Si Pria: Berapa itu buk?
Ibu Gadis: Kira-kira Rp 80 juta
Si Pria: (Astaga, dari mana mendapatkannya? Aduh...) Tingginya buk, tidak bisa rendah lagi kah?
Bapa Gadis: Itu nasib kamu, kamu yang ingin menikahi anak kami. Dia juga satu-satunya anak perempuan kami, bolehlah harganya mahal sedikit.

Baca: Mertua Malam Hari Diam-diam Masuk Kamar, Aku Pura-Pura Tidur, Tak Disangka yang Dilakukannya

Si Pria hampir hilang akal ketika disebutkan harga si gadis itu. Tapi si pria mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan untuk menurunkan harga si gadis.
Si Pria: Emm .. Kenapa anak bapak, tidak pakai jilbab?
Bapa Gadis: Itu cobalah tanya sama ibunya
Ibu Gadis: Ehh. bapak lah. Kenapa juga saya. Bapak yang seharusnya didik anak.
Bapa Gadis: Saya kan kerja. Mana ada waktu.
Si Pria: (Aduh, jadi ribut nanti) Ehh-ehh. Bapak-Ibu, kita lupakan dulu pertanyaan tadi, sebab kalau ikut ibu pun tidak memakai jilbab juga. Maksudnya lebih kurang sama lah. Boleh bertanya lagi? Apa anak bapak pintar memasak?
Bapa Gadis: Hmm... Boro-boro masak. Tahu-tahu bangun tidur jam 12 lebih, bukan bangun pagi itu, tapi bangun siang. Terus makan siang.

Ibu Gadis: Apa lah ayah ini, orang ini ingin jadikan anak kita istrinya, dia malah cerita yang jelek-jelek.
Bapa Gadis: Ibunya pun sama, suka bangun kesiangan juga.
Ibu Gadis: Ayahnya!
Si Pria: (Bengong, yang itu pun diceritakan) Hehe .. Baik. Pertanyaan lain, bisa tidak dia baca AlQuran?
Ibu Gadis: Bisa sedikit-sedikit kok.
Si Pria: Pertanyaan terakhir, boleh?
Ibu Gadis: Iya, apa?
Si Pria: Ini pertanyaan utama, Dia salat tidak?
Bapa Gadis: Apa motif kamu bertanya semua ini. Dia kan selalu ikut kamu. Kamu lah yang tahu.
Si Pria: Kalau di luar, saya ajak dia salat, dia bilang datang bulan (halangan). Tiap hari saat jalan selalu bilang lagi datang bulan. Dia tahu salat atau tidak?
Hampir tertunduk si ayah dan si ibu. Pada raut wajah mereka berdua ada tanda-tanda kemerahan menahan amarah.

Baca: Tak disangka, Pasangan Artis Ini Ternyata Sudah Punya 2 Cucu

Si Pria: Bisa saya sambung lagi. Dia tidak bisa masak, tidak bisa shalat, tidak bisa mengaji, tidak mengerti menutup aurat sebelum dia menjadi istri saya, maka dosa-dosa dia jelas akan dibebankan pada ibu dan bapak. Lagipula tidak pantas harga Rp 65 juta untuk dia. Berbeda kalau dia ini 'hafizah', 30 juz dalam kepala, menutup aurat dari bawah sampai ke atas dan tahu menjaga batasan, itu barulah pantas Rp 100 juta lebih pun saya sanggup bayar. Tapi orang seperti itu kalau menikah mereka meminta mahar sererendah-rendahnya. Sebab mereka paham sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar.
Lumrahkah adat untuk membuat anak perempuan dijadikan objek pemuas nafsu hati, menunjukkan kekayaan serta bermegah-megah dengan apa yang ada. Terutama pada pernikahan.

Adat lebih tinggi dari agama. Dibiarkan putri dihias dan dibuat pertunjukkan di depan umum. Sementara pada waktu itu akad telah dilafaz si suami, dan segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.
Sangat rugi. Mahar berpuluh-puluh juta dibayar pada istri dan seharusnya hanya si suami seorang yang berhak melihat, tetapi pada hari pertama pernikahan yaitu saat di pelaminan saja puluhan ribu mata yang melihat si istri tanpa menutup aurat. Seolah-olah si suami membayar mahar untuk mereka semua.
Bapa Gadis: Tapi kan. Bapak hanya ingin anak senang. Semua itu sekali seumur hidup.
Ibu Gadis: Tentulah kami berdua pun turut gembira.
Si Pria: Benarkah? Bapak, ibu, saya bukan apa. Sekarang dosa anak bapak, bapak yang tanggung. Besok lusa saat sudah akad nikah, dosa dia saya yang tanggung. Pasti bapak ingin menggelar resepsi pernikahan dan setiap mata yang memandang, saya akan dapat dosa.

Ibu si gadis segera menarik diri dari percakapan dengan kembali ke belakang. Si ibu tahu, si pria berbicara menggunakan fakta islam dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pria itu.
Bapa Gadis: Kau mengajari pula ingin berbicara agama dengan kami.
Si Pria: Ehh. Maaflah pak. Bukan saya nak bicara soal agama. Tapi itulah realitasnya. Kita terlalu memandang adat sampai lupa agama.
Bapa Gadis: Begini saja. Kamu sediakan Rp 65 juta. Kalau tidak, kamu tidak bisa menikah dengan anak aku!
Si Pria: Akan lama kalau seperti itu. Saat usia saya sudah 30 tahun lebih, baru dapat melamar. Kalau seperti itu pak, 'izinkan saya berzina dengan anak bapak'?
Bapa Gadis: Hoi! Kau sudah melampaui batas, jaga baik-baik kata-katamu itu. Jangan main buka mulut saja.
Si Pria: Dengarkan dulu penjelasan saya pak. Bapak tahu tidak apa sebab orang berzina dan banyak anak lahir diluar nikah? Sebab benda ini lah pak. Seringkali orang tua perempuan yang meminta berpuluh-puluh juta, hingga pihak pria terpaksa menunda keinginan menikah.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help