BangkaPos/

Mengejutkan, Pria Ini Nekat Minta Izin Berzina Dengan Calon Mertuanya, Ini Penyebabnya

Akan lama kalau seperti itu. Saat usia saya sudah 30 tahun lebih, baru dapat melamar. Kalau seperti itu pak, 'izinkan saya berzina dengan anak bapak

Mengejutkan, Pria Ini Nekat Minta Izin Berzina Dengan Calon Mertuanya, Ini Penyebabnya
IST
Ilustrasi 

Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diarahkan dengan benar, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Awalnya memang yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegang tangan, peluk-peluk, pegang pinggul, dan sebagainya. Tapi lama-lama jadi yang berat-berat. Yang berat-berat itu, bapak sendiri pun bisa bayangkan.
Bapa Gadis: Apa hubungan kamu ingin berzina pula?

Si Pria: Iya lah. Bapak tidak izinkan kami menikah sekarang, kalau ada duit dulu baru bisa menikah. Kami mau lepaskan nafsu bagaimana pak? Tiap hari saya lihat dia, dia lihat saya. Susah pak. Nafsu .. Sebab itu saya dengan rendah hati minta izin pada pakcik untuk berzina dengan anak bapak. Terpenting bapak tahu saya dan dia akan berzina, sebab rata-rata orang yang berzina nii orang tua tak tahu. Terlihat seperti biasa-biasa saja padahal sudah berzina. Err .. berzina tidak hanya yang ehem-ehem saja. Ada zina-zina yang ringan, tapi karena ringan itu yang akan jadi berat.
Bapa Gadis: Hmm .. Kamu ini sangat rumit. Nasib baik bapak santai saja. Kalau orang lain, sudah lama angkat parang. Tapi kalau tidak ada duit, bagaiman kamu mau kasih anak saya makan?

Si Pria: Hehe .. Bapak lupa dengan apa yang telah Allah janjikan?
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara akmu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Surat An-Nur Ayat 32).
Tidak mungkinlah lah kita tidak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Kalau makan dan minum, insyaAllah saya mampu memberikannya.
Masalah, tempat tinggal itu kita bisa bicarakan lagi. Kalau benda ini dapat mencegah kami dari melakukan hal dosa dan sia-sia. Baik, akan disegerakan. Bapak pun tak mau terjadi hal-hal tidak baik kan.

Diam tanpa kata ayah si gadis, merenungi kata-kata si pria. Dia memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si pria dan ayah si gadis mendapat akal.
Bapa Gadis: Kamu tahu sendiri zaman sekarang ini. Kalau ikut cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan resepsi dengan pelaminan mewah, bapak bisa terima. Tapi kamu harus peduli apa yang orang lain bilang. Tahu-tahu orang akan berkata anak aku tertangkap basah dan nikah paksa dengan kamu. Mau ditaruh di mana muka ini.
Si Pria: Bagus juga rekomendasi bapak itu. Tertangkap basah, dan hanya dikenakan denda ringan. Bisa langsung dinikahkan saat itu juga. Bagus-bagus.
Bapa Gadis: Serius lah sedikit.

Si Pria: Itu sudah betul pak. Hehe.... Tapi pak, saya tidak bilang tidak akan ada resepsi. Sebab, resepsi ini perlu memberitahukan kalau adanya suatu pernikahan. Itu cara islam. Oke, tapi yang tak oke-nya, bersanding itu. Kasihan saya pak, saya seorang bayar mahar untuk anak bapak, orang lain juga dapat lihat.
Saat pengantin perempuan berhias secara berlebihan dan orang lain yang lihat menaikkan nafsu syahwat mereka, saya yang berdosa pak. Saya yang tanggung dosa dia. InsyaAllah pak, saya bukan ingin buat masalah pak. Syariat memang seperti itu.
Maha baiknya Allah sudah jaga kita selama ini, tapi hal-hal seperti ini pun kita masih pandang ringan dan kita tak menjaga apa yang telah Allah janjikan. Susah lah kalau seperti itu pak.

Maaflah kalau ada kata saya yang membuat pakcik kurang senang dengan saya. Semuanya kita serahkan pada Allah, kita berencana saja.
Azan Dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 meter dari masjid dekat rumah si gadis. Si pria memohon untuk ke masjid dan mengajak ayah si gadis untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut.

Lantas si pria memberi salam dan memohon untuk keluar. Di pinggir jendela, si gadis melihat si pria mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera dipakainya. Masuk ke dalam mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi.

Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata mendengar pembicaraan si pria dengan ayahnya. Jilbab pemberian si pria sebagai hadiah pada hari jadinya yang lalu digenggam erat.
Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat tingkah anaknya. Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu menghadap ayahnya.

Ibu Gadis: Apa yang anak itu bilang benar. Kita ini tidak mementingkan agama selama ini.
Bapa Gadis: Hmm .. entahlah, tidak tahulah saya. Keras betul kata-kata anak itu tadi. Satu-satu kena. Dia pesan tadi, minta bersiap, habis zuhur dia akan ajak kamu pergi jalan.
Gadis: Sudah tidak selera mau pergi, Ayah. Entah ..
Si gadis kemudian mengambil ponselnya dan mengetik pesan.
Si pria yang selesai wudhu tersenyum ketika membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis.

"Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridha dan akan terus bersama mu, aku juga akan terus pada agama yang ada padamu."
"Siang ini tidak selera keluar jalan, maaf ......."
"Dan minggu depan ayah minta kirim rombongan untuk lamaran.".

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help