Ikebana Khawatir Pantai Rebo Dikomersilkan Akan Berdampak Buruk

Ketua Ikebana Ervawi menjelas keberadaan Ikebana dalam menghijaukan kembali lahan Pantai Rebo yang sudah hancur

Ikebana Khawatir Pantai Rebo Dikomersilkan Akan Berdampak Buruk
bangkapos.com/Nurhayati
Direktur Utama PT DAK Muhammad Riski bersama Direktur PT DAK Yono, Kepala Bagian Administrasi PT DAK Alex, karyawan PT DAK dan komunitas sepeda, bekerjasama dengan Ikebana menanam bibit magrove, Minggu (31/1/2016) di Pantai Rebo Sungailiat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Komisi II DPRD Kabupaten Bangka mengelar rapat bersama Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangka untuk mendengarkan aspirasi yang disampaikan Ikatan Keluarga Besar Kenanga (Ikebana) mengenai kekhawatiran mereka di Pesisir Pantai Rebo dijadikan kawasan komersil, Senin (4/6/2017) di Ruang Banmus DPRD Kabupaten Bangka.

Pada kesempatan itu Ketua Ikebana Ervawi menjelas keberadaan Ikebana dalam menghijaukan kembali lahan Pantai Rebo yang sudah hancur dengan penanaman bibit bakau

"Dulu di Pantai Rebo ini banyak pohon bakau dan aktivitas nelayan mencari ikan tetapi sejak ada aktivitas kapal mercu bakau mati, dan pasir menutupi pantai dari tailing kapal mercu itu dan aktivitas TI juga banyak. Kami dari Yayasan Ikebana dan Pengurus Masjid Kenanga berembuk kalau ini dibiarkan hancur. Jadi kami berinisiatif gotong royong dengan masyarakat Kenanga nanam bakau bibitnya kami nyabut bibit bakau di sekitar pantai itu dulu. Dokumen dan fotonya lengkap sampai tahun 2017 masih saya simpan," ungkap Ervawi yang datang bersama Tokoh Masyarakat Kenanga H Suni, Kaling Kenanga Saman, Tokoh Pemuda Kenanga GA Subhan, Falis dan Nono.

Menurutnya penanaman magrove ini untuk anak cucu nanti karena dulunya masyarakat Kenanga, Rebo dan sekitarnya sering mencari ikan di Pantai Rebo.

Untuk menghijaukan lahan di Pantai Rebo, Yayasan Ikebana bersama masyarakat Kenanga melakukan penananan bakau pada bulan Mei tahun 2010 kemudian pada bulan Juni mengundang Bupati Bangka yang saat itu dijabat H Yusroni Yazid untuk menanam bakau.

Dari pasir numpuk berasal dari tailing kapal mercu dan TI dilakukan penanaman bakau termasuk Mang Kalok yang melakukan penanaman pinus.

"Pak Yusroni berpikir tidak ada yang merawat bakau ini maka dimasuklah Mang Kalok jadi honorer pemda. Saat itu Mang Kalok anggota Ikebana dan kerja dengan Ikebana," jelas Ervawi.

Seiring waktu Mang Kalok jalan sendiri dan Ikebana berjalan sendiri dengan menanam dan mengurus bakau di Pantai Rebo. Masalahnya kata Ervawi beberapa bulan lalu dibuka jalan menuju Pantai Rebo hingga mencapai pantai oleh pihak pengusaha.

"Pembukaan jalan tidak kompromi dengan Ikebana bakau yang kami tanam banyak yang mati dan bakau dekat jalan mati disodok untuk buat jalan. Kebetulan hari ini bertepatan dengan hari lingkungan hidup pada tanggal 5 Juni. Pantai yang selama ini kita lindungi sudah bagus sudah ditanam bakau sudah besar kok ingin dibuat tempat wisata bukan kami tidak setuju dengan pariwisata. Bakau kami jangan diganggu biar pantai itu tetap jadi kawasan publik bukan disekat-sekat untuk pariwisata," tegas Ervawi.

Ia juga mempertanyakan sertifikat lahan di Pantai Rebo yang dimiliki pengusaha karena lahan tersebut KP PT Timah Tbk dan juga kawasan hutan lindung pantai.

Diakuinya di sekitar pesisir Pantai Rebo juga sudah banyak dibuat pagar-pagar dan jadi kawasan pribadi sehingga warga tidak bisa lagi masuk ke pantai. Untuk itu mereka minta untuk kawasan pantai yang mereka tanam bakau tetap jadi kawasan publik karena itu tempat masyarakat mencari nafkah.

Menurut GA Subhan Pantai Rebo sudah dikapling tapi caranya tidak elegan dan ini bisa menjadi bom. Diakuinya dulu Kenanga Rebo dan Tanjung Ratu itu satu yakni Kampung Kenanga karena adanya pengembangan daerah maka Kenanga menjadi kelurahan, Rebo dan Tanjung Ratu jadi desa.

Menurutnya sejak dulu Pantai Rebo menjadi tempat bagi warga untuk mencari ikan sehingga secara historis warga Kenanga memiliki ikatan dengan Pantai Rebo sehingga warga Kenanga ingin menjaga pantai itu jangan sampai hancur.

Penulis: nurhayati
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved