BangkaPos/

Kisah Sepak Terjang Maute Bersaudara di Marawi, yang Kini Merepotkan Militer Filipina

Sepak terjang kakak beradik Omarkhayam dan Abdullah Maute di Marawi, Filipina selatan, dimulai bertahun-tahun lalu

Kisah Sepak Terjang Maute Bersaudara di Marawi, yang Kini Merepotkan Militer Filipina
AFP/Getty Images
Abdullah Maute (berdiri) menunjuk peta dalam pertemuan dengan Isnilon Hapilon (kedua dari kiri), yang merupakan pemimpin kelompok Abu Sayyaf. Foto ini didapat militer Filipina. 

BANGKAPOS.COM--Sepak terjang kakak beradik Omarkhayam dan Abdullah Maute di Marawi, Filipina selatan, dimulai bertahun-tahun lalu.

Setelah lulus dari SMA Kristen Dansalan College, Maute bersaudara menempuh studi di Timur Tengah.

Menurut Sidney Jones, selaku direktur Institute for Policy Analysis of Conflict di Jakarta, serta Rommel Banlaoi, yang menjabat Philippine Institute for Peace, Violence and Terrorism Research di Manila, kakak beradik tersebut berbeda jurusan.

Omarkhayam menuju Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, sedangkan Abdullah ke Yordania. Dalam periode inilah, menurut Jones, Maute bersaudara mengalami proses radikalisasi.

Militer Filipina mengerahkan serdadu untuk menumpas kelompok Maute di Marawi
Militer Filipina mengerahkan serdadu untuk menumpas kelompok Maute di Marawi (AFP/Getty Images)

Selang 10 tahun kemudian, kata Banlaoi, mereka kembali ke Mindanao dan mendapat arahan dari Ustadz Sanussi asal Indonesia.

Melalui jejaring pria yang belakangan menjadi buronan inilah, Maute bersaudara dapat menjalin kontak dengan sejumlah milisi Asia Tenggara, seperti pembuat bom asal Malaysia, Zulkifli bin Hir.

Status sosial keluarga Maute yang merupakan bagian dari kaum elite Mindanao menambah kuat posisi Omarkhayam dan Abdullah. Ayah mereka merupakan seorang insinyur dan ibu mereka terlibat dalam konstruksi dan properti Mindanao.

Bahkan, menurut Banlaoi, keluarga Maute punya hubungan darah dengan para petinggi Front Pembebasan Mindanao (MILF).

"Koneksi-koneksi ini memberikan semacam perlindungan kepada kelompok tersebut," ujar Banlaoi kepada kantor berita AFP .

Sejak konflik di Marawi meletus, ayah dan ibu Maute telah ditangkap. Aparat menyebut penangkapan ibu Maute sangat penting karena dia diduga menjadi penyokong dana kelompok tersebut.

Halaman
123
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help