Musibah Nelayan Bagan

Fendi 'Yang Saya Pikirkan Waktu itu Mati, Saya Pikir Bakal Mati'

Suara gemuruh, terdengar dasyat. Bangunan kayu bagan yang berdiri di lepas pantai itu pun seketika roboh, menyisakan sebatang kayu pancang

Fendi 'Yang Saya Pikirkan Waktu  itu Mati, Saya Pikir Bakal Mati'
Bangkapos/Fery Laskari

"Apapun yang terjadi, kami berdua tak akan melompat ke air. Kami tetap berpelukan di kayu pancang," katanya.

Satu jam bertahan di tiang pancang Pendi dan Deyan tak biasa berbuat-apa-apa. Keduanya hanya bisa pasrah menunggu keajaiban dari Yang Maha Kuasa. "Kami betul-betul panik waktu itu.

Rasa cemas, campur aduk di benak kami," kata Pendi seraya mengatakan, pemilik bagan, Adew (40) sudah lebih dulu pulang melaut sebelum badai menghantam..

Hingga harapan keduanya selamat pun tiba. Dari kejauhan, Pendi dan Deyan melihat sebuah perahu motor, melanju tepat ke arah mereka.

Harapan kedua nelayan ini untuk selamat jadi kenyataan. Saat perahu motor yang dimaksud semakin dekat,, Thomas dan Ahyan, melambai dari atas perahu, lalu menyelamatkan Pendi dan Deyan.

"Kami bersyukur karena pada akhirnya selamat. Kalau saja tak ada perahu yang datang, mungkin kami sudah mati," kata Fendi (18), bujangan anak semata wayang asal Lubuk Kelik Sungailiat Bangka itu, berbagi kisah usai kejadian.(*)

Penulis: ferylaskari
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help