Jawak, Makanan Khas Belitung nan Langka dan Punya Nilai Jual Tinggi

Kalau Jawak ini memang makanan khas Belitung. Ditempat kami dibuat bubur masaknya pakai santan dan gula merah

Jawak, Makanan Khas Belitung nan Langka dan Punya Nilai Jual Tinggi
Bangkapos/Nurhayati
Sutinah dan Ratna Penjaga Stand Belitung memamerkan Jawak, saat Pameran Gelar Dagang UPPKS dan Temu Kader Kegiatan Harganas ke XXVI, Rabu (26/7/2017) di Taman Sari Sungailiat. 

 Laporan Wartawan Bangka Pos,Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Stand Kabupaten Belitung saat Pameran Gelar Dagang UPPKS dan Temu Kader Kegiatan Harganas ke XXVI, Rabu (26/7/2017) di Taman Sari Sungailiat menampilkan berbagai makanan khas daerah diantaranya gula merah, ikan teri, kripik sukun hingga kemplang dan aneka makanan serta kerajinan tangan lainnya.

Namun ada satu makanan khas Belitung yang jual di stand pameran ini yang unik, yakni biji tanaman Sorgum atau di Kabupaten Belitung dikenal dengan nama Jawak yang menjadi makanan khas masyarakat di setempat.

Tanaman yang tumbuh mirip ilalang tetapi dengan pohon lebih tinggi seperti jagung ini ternyata memiliki nilai jual yang sangat tinggi.

Bahkan menurut Sukarti dan Ratna dari Kelompok UPPKS Zahra Terong Sijuk, harga jual Jawak di Belitung sebesar Rp 200.000 perkilogram.

Di stand ini Jawak di bungkus dalam kantong plastik kemasan kecil dengan ukuran seperempat kilogram yang dijual dengan harga Rp 50.000.

Para pengunjung stand terutama dari kalangan ibu rumah tangga juga sempat bertanya-tanya tentang Jawak. Karena di Kabupaten Bangka sendiri biji tanaman yang mirip pengembang (ibu) roti ini tak banyak yang tahu.

"Kalau Jawak ini memang makanan khas Belitung. Ditempat kami dibuat bubur masaknya pakai santan dan gula merah. Enak rasanya manis kayak bubur. Kalau dimasak ini jadi banyak," ungkap Sukarti.

Di Belitung sendiri menurutnya Jawak sudah menjadi makanan langka karena jarang bisa ditemukan dan hampir punah sehingga harga jualnya tinggi.

Harga yang mereka jual di stand pameran ini menurutnya sama dengan harga jual Jawak di Belitung. Apalagi tanaman ini merupakan tanaman semusim yang panennya hanya satu kali dalam satu tahun.

"Biasanya orang waktu bakar tanah untuk nanam padi ladang sebelum nanam padi ditanam Jawak dulu. Bibitnya tinggal dihambur saja di lahan yang sudah dibakar," jelas Sukarti.

Sedangkan masa panen Jawak biasanya bersamaan dengan masa panen padi bahkan bisa lebih daripada padi. "Mungkin sekitar lima bulanlah baru bisa panen," ungkap Sukarti.

Selain itu untuk pengelolaan Jawak cukup sulit karena harus memisahkan tujuh kulit arinya.

"Lah susah masyarakat yang nanam dikit jadi termasuk langka. Orang yang sudah pernah nyoba makan pasti senang. rasanya kayak nasi tapi ini makannya dibubur pakai santan pakai gula merah. Yo belilah jadi tahu rasanya," ajak Sukarti.(*)

Penulis: nurhayati
Editor: Iwan Satriawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved