BangkaPos/

Asrinya Hutan Wisata Mangrove di Bangka Tengah, Wisatawan Bisa Melihat Aneka Jenis Burung

Perjuangan panjang yang dilakukan pegiat lingkungan Desa Kurau, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung akhirnya membuahkan hasil

Asrinya Hutan Wisata Mangrove di Bangka Tengah, Wisatawan Bisa Melihat Aneka Jenis Burung
KOMPAS.COM/HERU DAHNUR
Gerbang masuk lokasi wisata hutan mangrove Desa Kurau Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (29/7/2017). 

BANGKAPOS.COM--Perjuangan panjang yang dilakukan pegiat lingkungan Desa Kurau, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah daerah secara resmi menetapkan lahan seluas 112 hektar yang mereka kelola sejak beberapa tahun belakangan, sebagai sumber ekonomi sekaligus lokasi wisata edukasi.

“Konsepnya ini untuk pelestarian lingkungan dan edukasi,” kata Pengelola Wisata Kurau, Yasir, Sabtu (29/7/2017).

Kawasan wisata ini dominan dengan tumbuhan hutan mangrove. Pengelola kemudian melengkapinya dengan pendopo tempat istirahat, serta jembatan kayu yang sengaja dibangun mengitari areal wisata. Dengan adanya fasilitas tersebut, setiap wisatawan bisa menikmati keanekaragaman hutan secara leluasa.

Tak ketinggalan sebuah spot untuk berswafoto disediakan persis di pintu masuk jembatan kayu.
Di dalam hutan mangrove, para wisatawan bisa bersantai menggunakan hammock ditemani semilir angin pepohonan. 

Di lokasi wisata ini, ada beberapa jenis burungyang sedang didata keberadaannya. Suatu saat kawasan ini bisa menjadi lokasi pengamatan aneka jenis burung (birdwatching).
Sebagai sumber ekonomi, terdapat tiga buah tambak yang masing-masing berukuran 20 x 30 meter. 

Tambak ini juga ditanami mangrove sebagai habitat asli pembudidayaan udang, ikan dan kepiting.
Salah seorang wisatawan, Niar, mengaku senang berada di tengah hutan mangrove yang masih asri.

Ia yang ditemani beberapa teman, bisa mengenal lebih dekat ekosistem di dalamnya.
“Kami berharap ini dikembangkan secara terpadu. Jadi banyak yang bisa diketahui pengunjung,” ujarnya.

Pengembangan kawasan wisata ini memang telah menarik perhatian Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Aktivis yang merintis lokasi wisata ini akan diusulkan sebagai penerima penghargaan Kalpataru. 
Program yang telah dilaksanakan di Desa Kurau dinilai sejalan dengan arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Sebagai bentuk respon positif pemerintah pusat, juga telah dikucurkan bantuan Rp 50 juta untuk pengelolaan tahap awal.

Ada pun konsep agrowisata Desa Kurau diproyeksikan tidak hanya bermanfaat bagi para wisatawan, tapi juga medatangkan nilai ekonomis yang ramah lingkungan bagi masyarakat setempat. 
 

Editor: khamelia
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help