Limbah Kayu Jadi Barang Seni dan Bernilai di Tangan Otoy

Otoy (37)berhasil mengolah limbah tebangan beberapa jenis kayu menjadi barang berharga.

Limbah Kayu Jadi Barang Seni dan Bernilai di Tangan Otoy
bangkapos.com/Edwardi
Otoy dan hasil karyanya 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Otoy (37), warga Desa Air Ruay Kecamatan Pemali Kabupaten Bangka berhasil mengolah limbah tebangan beberapa jenis kayu menjadi barang berharga.

Otoy telah menghasilkan kayu yang diolah dengan mesin bubut rakitannya menjadi gelondongan untuk senar atau nilon pancing, asbak, toples, cangkir dan berbagai bentuk lainnya.

"Awalnya coba-coba iseng membuat gelondong pancing dengan mengunakan parang secara manual. Lama-lama kita berpikir bagaimana untuk mudah pengerjaannya," kata Otoy, ditemui dibengkelnyaa, Rabu (2/8/17) di Desa Air Ruay.

Diceritakannya, ia sempat melakukan browsing di internet tentang cara merakit ‎mesin bubut yang secara bersamaan ada tawaran mesin air bekas dari temannya.

Setelah dicoba dirakit, mesin bubut dari mesin air bekas itu hanya bertahan dua minggu, karena besi as-nya kecil dan tidak kuat menahan beban.

"Lalu mencari cara baru dengan merakit mesin bubut menggunakan mesin robin 3 1/2 PK. Namun gagal karena tidak bisa diengkol akibat beban yang terlalu berat. Lalu ditemukan permasalahan pada bagian besi As yang kemudian diganti dengan As lebih besar hingga bisa beputar, namun menggunakan mesin robin menyebabkan biaya operasional mahal karena banyak menggunakan bahan bakar bensin," urainya.

Selanjutnya, Otoy mulai melakukan percobaan dan terlihat bagus untuk perakitan mesin ketika menggunakan mesin dinamo yang dipakai hingga sekarang. Mesin dinamo menggunakan listrik beserta besi dudukan yang juga dibantu mantan Kades Air Ruai Sabrul Jabil terlihat sebagai peralatan terbaiknya saat ini.

Kegiatan yang Otoy tekuni sekitar dua tahun lebih ini kemudian dilakukan beberapa kali ujicoba menggunakan bahan kayu akasia, angsana hingga durian dan jelutung dan berkreasi membuat vas bunga, tempat bedak, tempat permen, piring, dan lainnya. Pemasaran sejauh ini dilakukan baru sebatas di kota Sungailiat secara sendiri.

Secara perlahan Otoy mengolah kayu yang dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan lalu dipasang pada penjepit mesin bubut. Sekilas kayu tersebut tampak tidak berguna karena hasil buangan. Setelah mesin bubut dihidupkannya, kemudian mulai mengukir kayu sesuai tujuan hendak dibuat barang apa. Mata pahat tajam pengukir kayu ia pesan dari Blitar yang saat pengerjaannya tampak membutuhkan kepiawaian agar mata pahat mengukir kayu sesuai keinginan.

Halaman
12
Penulis: edwardi
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved