Home »

News

Mohammad Raus Sharif asal Malaysia Terpilih Secara Aklamasi Presiden AACC

Pertemuan Dewan Anggota Asosiasi Mahkamah Konstitusi dan Institusi Sejenis se-Asia (AACC) resmi menetapkan Malaysia sebagai pemimpin baru.

Mohammad Raus Sharif asal Malaysia Terpilih Secara Aklamasi Presiden AACC
KOMPAS.com/HARIS PRAHARA
Ketua Mahkamah Konstitusi Malaysia Raus Sharif terpilih sebagai Presiden AACC untuk periode dua tahun ke depan. 

BANGKAPOS.COM - Pertemuan Dewan Anggota Asosiasi Mahkamah Konstitusi dan Institusi Sejenis se-Asia (AACC) resmi menetapkan Malaysia sebagai pemimpin baru.

Sebanyak 13 negara anggota yang hadir dalam pertemuan di Solo, Jawa Tengah, Selasa (8/8/2017), menyambut baik keinginan Negeri Jiran untuk menjadi pucuk pimpinan AACC.

Ketua Mahkamah Konstitusi Malaysia Mohammad Raus Sharif telah ditetapkan menjadi Presiden AACC untuk masa jabatan dua tahun ke depan. Setelah terpilih, Raus menyatakan siap mengemban tugas dan tanggung jawab tersebut.

"Kami ingin mengucapkan terima kasih untuk Indonesia karena mau memperpanjang masa kepemimpinannya selama satu tahun ini. Hal itu (memang) permintaan dari Malaysia," tutur Raus seusai terpilih.

Ia berjanji akan melakukan yang terbaik agar nama AACC tetap terhormat. Seperti diketahui, terpilihnya Malaysia sebagai pimpinan baru AACC menjadi agenda pamungkas Pertemuan para Dewan Anggota.

Selain keputusan itu, forum juga menyepakati pimpinan untuk beberapa periode mendatang. Setelah Malaysia, berturut-turut yang akan memimpin AACC adalah Kazakhstan, Mongolia, dan Thailand. Masing-masing negara akan mengemban tugas untuk periode dua tahun.

"Proses terpilihnya Malaysia (menjadi Presiden MK se-Asia) berjalan lancar," ujar Arief Hidayat yang memimpin pertemuan tersebut selaku Presiden AACC periode 2014-2017.
Kata dia, prosesnya amat sederhana. Keputusan didapatkan dalam tiga menit. Lebih jauh, Arief mengatakan, proses pemilihan mengutamakan prinsip musyawarah mufakat dan aklamasi.

"Nilai-nilai tersebut dapat mencerminkan pengalaman yang baik dalam berorganisasi," ucapnya.

Meskipun tak lagi menjadi pimpinan AACC, Arief optimistis Indonesia tetap dapat berperan dalam pengembangan AACC. Hal itu disebabkan Indonesia masih mengemban tugas menjadi Sekretariat Tetap bersama dengan Korea Selatan dan Turki.

"Indonesia akan memainkan peran strategis pada bidang perencanaan dan koordinasi AACC," tambah Arief.

Sebagai informasi, masa jabatan Indonesia sebagai Presiden AACC sesungguhnya telah habis pada 2016 lalu. Akan tetapi, hasil rapat Kongres ke-3 AACC tahun lalu memutuskan bahwa masa jabatan Indonesia diperpanjang hingga 2017.

Kondisi itu disebabkan belum adanya negara anggota yang siap menggantikan Indonesia untuk menduduki jabatan tersebut.

Selama masa kepemimpinan Indonesia, terdapat dua anggota baru AACC, yaitu Kyrgyzstan dan Myanmar.

Selain itu, Indonesia juga kerap menjadi tuan rumah kegiatan AACC, yaitu saat pembentukan AACC pada 2010 di Jakarta dan Kongres ke-3 AACC di Bali tahun lalu.

Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help