BangkaPos/

Maju Pilwako, Molen Ingin Menjemput 'Takdir'

Suasana penuh kekeluargaan diselingi canda tawa mewarnai pertemuan antarakandidat calon Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil.

Maju Pilwako, Molen Ingin Menjemput 'Takdir'
Bangkapos.com/M Zulkodri
Maulan Aklil ketika berbincang dan berdiskusi di Angkringan BBG Jalan Abdurrahman Sidik Kota Pangkalpinang, Jumat (11/08/2017) malam. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Zulkodri

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Suasana penuh kekeluargaan diselingi canda tawa mewarnai pertemuan antarakandidat calon Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen) di Angkringan BBG Jl Abdurrahman Sidik Pangkalpinang, Jumat (11/08/2017) malam.

Mengenakan kemaja putih dipadu celana katun hitam, Molen tampak ramah menyapa sejumlah pemuda yang sedang nongkrong di angkringan.

Pada kesempatan tersebut, Molen mengungkapkan alasan dirinya kembali mencalonkan diri untuk menjemput 'takdir'.

"Hidup itu pilihan. Kalau saya mikir sendiri, sudah cukup dengan posisi saya di ASN sudah eselon IVC. Tetapi saya terpanggil untuk menjadi orang yang berguna terutama di kampung halaman. Anak saya paling kecil ada di Pangkalpinang diurus kakak perempuan saya, ini juga salah satu magnet kecil saya harus hijrah ke Pangkalpinang. Makanya saya bilang majunya saya untuk menjemput 'takdir'," ujarnya.

Molen menceritakan awalnya dia sempat tidak mau mencalonkan diri. Apalagi istrinya sebagai pendamping hidupnya belum lama ini meninggal dunia, sehingga bisa dikatakan separuh jiwanya pergi.

"Namun karena dorongan sejumlah masyarakat, Bismillah saya keluar dari zona aman, dan memberanikan diri maju. Perlu dicatat, saya maju tulus dan ingin hadir di tengah masyarakat," ujarnya.

Molen menegaskan dirinya maju pada pilkada kali ini bukan sekadar sisa euforia saat pilwako 2013 lalu. Ia mengaku kini memiliki konsep untuk menata dan membangun Pangkalpinang dengan grand designnya membangun infrastruktur merubah kultur.

"Salah satu konsepnya akan melakukan pemetaan apa yang menjadi sektor unggulan masing-masing daerah di Pangkalpinang, kemudian baru dikembangkan. Intinya jadi pemimpin itu harus memiliki tiga sifat, yakni harus memiliki ilmu kepemerintahan, pembangunan dan kepamongan. Jadi silakan menilai sendiri," kata Molen.

Penulis: zulkodri
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help