BangkaPos/
Home »

Lokal

» Bangka

Dua Koptan di Desa Tiang Tara Terima Bantuan 29 Sapi Gaduh

Bupati Bangka H Tarmizi Saat, Sabtu (12/8/2017) kembali menyerahkan sebanyak bantuan 29 sapi gaduh

Dua Koptan di Desa Tiang Tara Terima Bantuan 29 Sapi Gaduh
IST
Bupati Bangka H Tarmizi Saat didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka H Kemas Arfani Rahman ketika menyerahkan bantuan sapi gaduh kepada dua kelompok tani, Sabtu (12/8/2017) di Desa Tiang Tara. 

Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kabupaten Bangka melalui Bupati Bangka H Tarmizi Saat, Sabtu (12/8/2017) kembali menyerahkan sebanyak bantuan 29 sapi gaduh kepada dua kelompok tani di Desa Tiang Tara Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka.

Padahal pada Juli 2017 lalu Dinas Pertanian Kabupaten Bangka juga telah memberikan bantuan sapi gaduh sebanyak 21 ekor untuk satu kelompok tani dan sebelumnya sudah membantu sebanyak 17 sapi gaduh untuk kelompok tani lain di Desa Tiang Tara.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Kemas Arfani Rahman menyebutkan alasan pemberian bantuan sapi gaduh kembali bagi koptan di Desa Tiang Tara ini untuk memberikan reward atas progres yang sudah dicapai oleh peternaknya.

"Sapi gaduh yang diberikan sebelumnya sudah berkembang dengan pesat baik jumlah anakan maupun kesehatannya, dan sumber pakan melimpah di perkebunan sawit yang mereka kelola, serta kita fokuskan untuk membangun Desa Sentra Peternakan rakyat (Desa SPR)," jelas Kemas saat dikonfirmasi bangkapos.com, Minggu (13/8/2017).

Menurut Kemas sapi yang diserahkan bupati ini jenis sapi Bali berjumlah 29 ekor sapi yang siap kawin dengan umur 30 hingga 36 bulan untuk dua kelompok ternak di Desa Tiang Tara.

Koptan yang mendapatkan bantuan sapi gaduh ini Kelompok Ternak Lembu Sora menerima 20 ekor sapi yakni lima ekor jantan dan 15 ekor betina da Kelompok Ternak Makmur menerima sembilan ekor sapi, yakni dua ekor jantan dan tujuh ekor betina.

Selain itu juga diserahkan satu unit Chopper yakni alat pencacah daun sawit dan dua unit pompa air.

"Namanya pola gaduhan yaitu mereka akan merawat sapi selama lima tahun dan akan mengembalikan kepada pemkab dengan perjanjian satu ekor jantan akan kembali satu ekor anakan yang sudah sapih dari induknya, dan satu ekor betina akan kembali dua ekor anakan betina yang juga sudah sapih dari induknya dengan umur 12-18 bulan," kata Kemas.

Dijelaskannya penyerahan sapi gaduh ini telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir dengan sistem siskasi. Sistem siskasi ini merupakan sistem integrasi sapi dan sawit, sistem integrasi karet dan sapi dan sistem integrasi padi dan sapi yang merupakan sumber pakan bagi sapi.

Untuk sistem integrasi sapi dan sawit dilaksanakan di Desa Tiang Tara, sistem integrasi sawit dan karet dilaksanakan di Belinyu daerah Lubuk Lesung dan Kampung Asam dan sistem integrasi padi, jagung dan sapi di laksanakan di Kelurahan Sinar Jaya Jelutung serta sistem integrasi karet dan sapi di Desa Jurung.

Untuk total bantuan sapi gaduhan beserta anakannya sudah hampir 300 ekor sapi dan tersebar di masyarakat.

"Pengawasan tetap rutin kita awasi baik kesehatan maupun pakan tambahannya melalui petugas keswan dan kesmavet yang kita miliki, dimana peran peternak lebih dominan mengawasi dan melaporkan bila ada masalah di lapangan," kata Kemas.

Dikatakannya, target swasembada tetap menjadi tujuan namun target utama mereka
adalah merubah paradigma masyarakat agar siap, mampu dan mau menghadapi era pasca timah yang sudah menanti di depan mata guna perbanyakan sumber bahan organik untuk kesuburan tanah.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help