BangkaPos/

Wah, Orang Jerman Ternyata Doyan Pempek, Cukonya Kadang Dicocol Pakai Roti

Hidup di negeri orang, mahasiswa Indonesia punya tugas tambahan selain belajar. Tugas tambahan dimaksud adalah memperkenalkan budaya Indonesia

Wah, Orang Jerman Ternyata Doyan Pempek, Cukonya Kadang Dicocol Pakai Roti
bangkapos.com/khamelia
Sajian aneka pempek, model dan tekwan 

BANGKAPOS.COM-- Hidup di negeri orang, mahasiswa Indonesia punya tugas tambahan selain belajar. Tugas tambahan dimaksud adalah memperkenalkan budaya Indonesia di negeri tempatnya belajar.

Di Jerman, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) memilih memperkenalkan budaya Indonesia melalui produk kuliner jajanan pasar seperti martabak, bakwan, putu ayu, nagasari, pempek hingga gorengan tempe.

"Orang Jerman paling suka tempe," kata Ketua PPI di Kota BremenJerman, Jason Darien Riadi, di acara seminar ekspor UMKM di Surabaya, Senin (14/8/2017).

Menurut mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Pesawat, Universitas Bremen itu, ternyata orang Jerman sangat suka jajanan tradisionalIndonesia. "Awalnya memang mereka penasaran melihat jajanan nagasari, yang berbentuk bulat dan dibungkus daun pisang. Setelah mencoba, mereka jadi ketagihan," katanya.

Orang Jerman kata dia, juga sangat suka sama pempek dan bumbu cukonya.

"Saat pempeknya habis, mereka masih manfaatkan bumbu cuko untuk dimakan dengan roti. Menurut mereka itu enak," terang remaja asli Surabaya itu.

Baca juga: Berkunjung ke Kricak, Istri Bill Gates Duduk di Tikar dan Disuguhi Jajanan Pasar

Bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa Indonesia, mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Pesawat, Universitas Bremen Jerman itu mengaku selalu eksis di setiap event pameran budaya di Kota Bremen.

Selain kuliner khas Indonesia, mereka juga menjual kain dan baju batik di ajang pameran tersebut. Di Kota Bremen kata Jason, ada sekitar 100 mahasiswa asal Indonesia dari berbagai daerah yang menempuh pendidikan sarjana di sejumlah kampus.

Saat ada pameran budaya, masing-masing menjual produk kuliner dari daerahnya. Produk kuliner tersebut dibuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di Bremen. Beberapa item bahan memang sulit didapat dan terpaksa memodifikasi produk kuliner yang dibuat.

Para mahasiswa terpaksa membuat sendiri karena menurut Jason dia belum menemukan cara mengirim produk jajanan langsung dari Indonesia ke Jerman.

Dari pameran itu, para mahasiswa Indonesia juga mendapatkan keuntungan finansial berlipat untuk tambahan biaya hidup. "Biasanya kalau kita modal patungan 50 euro, hasilnya bisa sampai 200 hingga 300 euro," ucapnya.

Di forum seminar ekspor UMKM kemarin, Jason menawarkan produk-produk UMKM asal Surabaya untuk didatangkan di Kota Bremen Jerman.

Menurut dia, di Kota Bremen dalam setahun ada beberapa event pameran budaya yang sayang jika dilewatkan, karena itu kesempatan untuk lebih mempromosikan produk budaya Indonesia di Jerman.

Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help