Molen Mengucapkan Dirgahayu ke 72 Kemerdekaan RI, Mengapa Harus Panjat Pinang?

Jika melihat akar sejarah permainan ini sebenarnya panjat pinang bertentangan dengan makna kemerdekaan itu sendiri.

Molen Mengucapkan Dirgahayu ke 72 Kemerdekaan RI, Mengapa Harus Panjat Pinang?
Istimewa
Ilustrasi 

"Melalui semangat panjat pinang, saya mengajak seluruh masyarakat Pangkalpinang untuk mendapatkan bendera yang ada diujung pohon pinang. Bendera yang melambangkan cita-cita bahwa Pangkalpinang harus berkibar lima tahun mendatang. Saya siap menjadi orang yang mengambil bendera di ujung batang pinang tersebut"
Maulan Aklil SIP
alias Molen

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia disambut rakyat di seluruh pelosok negeri dengan suka cita, tidak terkecuali masyarakat Pangkalpinang dan Bangka Belitung secara luas.

Terlepas dari makna nasionalisme dan patriotisme yang mestinya melekat dalam moment tersebut, kemerdekaan dalam makna masyarakat saat ini merupakan sesuatu yang harus di rayakan secara meriah. Salah satu bentuk perayaan yang khas berkaitan dengan kegiatan 17 Agustusan tersebut adalah kegiatan lomba panjat pinang

Mengapa setiap perayaan Agustusan harus ada panjat pinang? Bahkan mayoritas masyarakat menganggap, tak afdol rasanya jika tradisi dan hiburan rakyat ini absen dari perayaan HUT RI kita.

Jika melihat akar sejarah permainan ini sebenarnya panjat pinang bertentangan dengan makna kemerdekaan itu sendiri.

Selama ini, kita memahami kemerdekaan dalam konteks kebebasan dari belenggu penjajah Belanda. Sementara tradisi panjat pinang yang mencerminkan penghinaan dan praktik tertawa diatas penderitaan orang lain, -- tertawanya penjajah Belanda melihat rakyat pribumi berebut, saling injak menuju puncak demi memperebutkan hadiah--.

Sebagian orang berpendapat untuk apa terus mempertahankan tradisi Belanda yang sebenarnya kalau dipikirkan hari ini sangatlah menyakitkan tersebut?.

Tetapi dalam konteks hari ini, menurut saya dalam panjat pinang juga ada filosofi positif yang bisa kita ambil hikmahnya, selain warga yang menyaksikan tertawa menikmati acara tersebut. Coba kita perhatikan pernak-pernik dalam permainan panjat pinang ini. Setidaknya ada tiga filosofi yang bisa kita ambil : Pertama, permainan ini dilakukan secara berkelompok terdiri 4-5 orang.

Setiap kelompok harus berusaha sekeras mungkin, bekerja sama, memutar cara dan strategi agar bisa naik menaklukan pinang yang sudah dilumuri oli atau sejenisnya, mencapai puncak yang diatasnya biasanya ada lingkaran terbuat dari bambu yang digantungi berbagai hadiah, sementara di bagian ujung pinang di tancapkan tiang yang dipasangi bendera merah putih yang selalu berkibar tertiup angin. Hal ini memberikan kepada kita semua sebuah pelajaran berharga akan pentingnya kerjasama.

Kedua, upaya menggapai puncak kemenangan permainan ini harus terus dilakukan tanpa kenal lelah dan menyerah. Setiap kelompok harus bisa mengatur siapa yang berada paling bawah dengan kekuatan lebih, siapa di lapis kedua, siapa di lapis ketiga, dan siapa yang bisa mencapai puncaknya nanti. Beradu peran, sesuai kemampuan, dan ketika menang hadiah bisa dibagi secara adil. Filosofi dari poin kedua ini adalah semangat pantang menyerah untuk menggapai cita-cita.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved