Kisah Unik Seorang Hakim Tinggi Babel, Dari Penulis Hingga Pernah Didatangi Preman Bersajam

Ada seorang preman berambut gondrong mendatangi kediaman saya waktu itu. Pria itu membawa senjata tajam

Kisah Unik Seorang Hakim Tinggi Babel, Dari Penulis Hingga Pernah Didatangi Preman Bersajam
Bangkapos/Ryan Agusta
Dr Binsar M Gultom SH SE MH menunjukan buku karya tulisannya berjudul Pandangan Kritis Seorang Hakim 

Laporan wartawan Bangka Pos, Ryan A Prakasa

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Ramah dan sederhana dalam penampilan, sosok inilah menggambarkan keseharian sikap Binsar M Gultom sebagai hakim tinggi yang bertugas di Pengadilan Tinggi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (PT Babel).

Dalam obrolan singkat, Sabtu (19/8/2017) siang itu ia usai menghadiri acara perayaan hari ulang tahun (HUT) Mahkamah Agung RI ke-72 di gedung kantor PT Babel, mantan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

"Inilah buku karya tulisan saya," kata hakim tingggi yang memiliki sederetan gelar Dr, SH SE dan MH itu seraya menunjukan sebuah buku cukup tebal bersampul warna merah di hadapan bangkapos.com siang itu.

Binsar mengaku sesungguhnya hobi menulis telah dilakoninya sejak ia masih menjadi seorang mahasiswa dan hingga kini hobi atau bakatnya menulis tetap terus dilakoninya.

Hobi menulis pun dapat dilihat dari tulisannya di berbagai media di indonesia, baik di koran maupun majalah, seperti Kompas, Suara Pembaharuan, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Harian Waspada, Koran Tempo, Majalah Forum Keadilan, Varia Peradilan, majalah Mahkamah Agung, majalah Danapala dan majalah Komisi Yudisial (KY) serta masih banyak lagi.

Tak cuma itu Binsar pun diketahui telah menulis beberapa judul buku diantaranya berjudul Pelanggaran HAM Dalam Hukum Darurat di Indonesia.

Bahkan baru-baru ini tulisan terbarunya sempat pula dibukukan dengan Pandangan Kritis Seorang Hakim Dalam Penegakan Hukum di Indonesia, dan sejumlah karya tulisannya itu masing-masing PT Gramedia Pustaka Utama, Kompas.

Meski begitu mantan ketua Pengadilan Negeri Simalungun ini pun mengaku ia sendiri sangatlah memegang sebuah filosofi yang satu ini yakni 'Pengalaman adalah guru terbaik'.

Pasalnya selama ia menjadi hakim dan sempat ditugaskan di berbagai daerah di wilayah negara Republik Indonesia justru pengalaman yang sulit dilupakanya yakni saat ditugaskan menjadi hakim di Pengadilan Negeri Manatoto daerah Dili,Timur-Timor pada tahun 1996 (atau saat Timur-Timor belum pisah dengan NKRI).

Halaman
123
Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help