Kisah Unik Seorang Hakim Tinggi Babel, Dari Penulis Hingga Pernah Didatangi Preman Bersajam

Ada seorang preman berambut gondrong mendatangi kediaman saya waktu itu. Pria itu membawa senjata tajam

Kisah Unik Seorang Hakim Tinggi Babel, Dari Penulis Hingga Pernah Didatangi Preman Bersajam
Bangkapos/Ryan Agusta
Dr Binsar M Gultom SH SE MH menunjukan buku karya tulisannya berjudul Pandangan Kritis Seorang Hakim 

"Di daerah tugas saya itu di Timur-Timor merupakan daerah konflik karena waktu situasi politik memanas dan terjadi gejolak antara pro integrasi dengan pro kemerdekaan. Jadi di daerah itu ada pengalaman mencekam bagi saya," katanya.

Sampai saat ini Binsar mengaku dirinya masih saja merasakan 'traumatis' yang sulit untuk dilupakannya, pasalnya waktu itu ia kebetulan memegang perkara kasus pidana yang dianggapnya sangat bersingungan dengan masyarakat luas khususnya di Timur-Timor tersebut.

Hingga akhirnya ia pun terpaksa 'membebaskan' sejumlah terdakwa atau para pelaku terkait perkara pidana tersebut yakni kasus pembakaran massal lantaran pertimbangannya perkara itu setelah divonisnya tidak akan berbuntut ke tindakan kerusuhan besar atau chaos, meski sebelumnya pengalaman mencekam hingga membuat bulu kuduknya berdiri lantaran waktu itu sempat didatangi di kediaman rumah dinasnya oleh sejumlah preman membawa senjata tajam berupa pedang.

"Ada seorang preman berambut gondrong mendatangi kediaman saya waktu itu. Pria itu membawa senjata tajam berupa pedang panjang," katanya mencoba mengingatkan kejadian mencekam saat ia menjadi hakim di Timur-Timor.

Dalam kondisi seperi itu, Binsar mengaku ia langsung mengambil siasat guna menghindar serangan pria tak dikenalnya itu dengan cara bersembunyi di belakang pintu masuk rumah dinasnya itu.

"Untunglah waktu itu istriku pintar. Jadi dia menyebutkan bahwa saya tidak ada di rumah. Nah kalau seandainya istri tidak menjelaskan jika saya tidak ada di rumah mungkin saya sudah habislah nyawa saya ini," kata Binsar seraya menambahkan jika ia selamat sesungguhnya karena menurut ia tak lain karena Tuhan Yang Maha Esa masih menyayanginya.

Alasan lainnya dikarenakan menurutnya penegakan hukum sangat sulit ditegakkan di daerah setempat lantaran konflik politik di Timur- Timor justru lebih dominan dibanding penegakan hukum.

'Waktu itu kami para majelis hakim sempat berpikir panjang jika seandainya kasus itu kami vonis jatuhkan sanksi hukuman maka dampaknya semua akan mengamuk sebab dalam pikiran masyarakat di sana kok cuma orang-orang ini saja yang dihukum," katanya.

Bahkan pengalaman mencekam serupa pun sempat pula dialami olehnya saat ia mejadi hakim dan menyidangkan perkara atau kasus pengeboman sebuah tempat ibadah (gereja) di Kota Medan, Sumatera Utara pada tahun 2004.

"Dalam kasus di Medan ini saya terpaksa melepaskan tuntutan hukum kepada terdakwa itu artinya dilepas dan bukan dibebaskan nah mau tahu alasan kenapa? memang terbukti seorang dari terdakwa itu melakukan tindakan pelanggaran hukum tapi bukan pidana. Jadi begini maksudnya seseorang terdakwa itu diketahui hanya ditugaskan mencari sebuah rumah kontrakan saja lantaran terdakwa itu diminta oleh si pelaku yang mengebom itu," jelasnya.

Halaman
123
Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved