Kisah Unik Seorang Hakim Tinggi Babel, Dari Penulis Hingga Pernah Didatangi Preman Bersajam

Ada seorang preman berambut gondrong mendatangi kediaman saya waktu itu. Pria itu membawa senjata tajam

Kisah Unik Seorang Hakim Tinggi Babel, Dari Penulis Hingga Pernah Didatangi Preman Bersajam
Bangkapos/Ryan Agusta
Dr Binsar M Gultom SH SE MH menunjukan buku karya tulisannya berjudul Pandangan Kritis Seorang Hakim 

Selanjutnya terkait kejadian pengeboman gereja di Medan itu seorang terdakwa tersebut ditegaskan Binsar justru tidak berada di tempat kejadian (TKP) lantaran terdakwa itu berada di Batam pada saat kejadian.

"Sebab terdakwa yang satu ini perannya hanya sebatas mencari rumah kontrakan saja dan dia tidak tahu jika si pelaku akan melakukan tindak kejahatan pengeboman itu. Jadi kami lepaskan tuntutan hukumnya. Sebab untuk menjatuhkan suatu putusan sanksi hukum majelis hakim haruslah melihat unsur faktualnya atau harus fakta dan tidak boleh menduga-duga," tegasnya.

Tak cukup di situ, akibat putusan melepaskan tuntutan hukum terhadap seorang terdakwa pengeboman gereja di Medan itu akhirya Binsar pun mengaku sempat menjalani pemeriksaan hingga sempat mendapat sanksi berupa skorsing tidak boleh memegang perkara selama tiga bulan.

"Kasus ini sempat dikasasi. Namun untunglah perkara kasasi kami itu justru dikuatkan oleh Mahkamah Agung RI malah dibebaskan karena terdakwa itu tidak terbukti melakukan perbuatan melanggar hukum sedangkan para pelaku lainnya tetap dihukum selama 15 tahun," terangnya.

Oleh karenanya seorang hakim itu tidak mesti 'kaku' dalam penegakan hukum namun menelaah kepada pembuktian berdasarkan fakta yang ada.

'Jadi begitulah pandangan kritis seorang hakim dalam memutuskan suatu sanksi hukuman," katanya menutup obrolan singkat siang itu. (*)

Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved