VIDEO: Belum ekspor, Kawasan Lada Ini Sudah Banyak Didatangi Wisatawan

Ia menggunakan tangga mulai memilah dan memetik lada berwarna merah dari pucuk batang lada setinggi tiga meter.

Laporan wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tangan Lisna (55) pemetik lada milik PT. Soll Marina Agro Industri di Desa Namang Kabupaten Bangka Tengah, Selasa (22/8) begitu cekatan memetik biji lada.

Ia menggunakan tangga mulai memilah dan memetik lada berwarna merah dari pucuk batang lada setinggi tiga meter.

Memetik lada dari pucuk batang merupakan teknik untuk memastikan agar tak ada biji lada yang terlewat dipetik. Wanita ini bersama dua teman yang lain saat dijumpai Bangka Pos mengakui sudah dua kali memetik lada di satu-satunya kawasan lada milik perseroan terbatas (PT) di Bangka Belitung ini. Lahan lada milik PT.Soll Marina Agro Industri baru berusia dua tahun memiliki luas 60 hektar dengan tertanam 75.000 batang lada.

"Saya mulai petik (lada) jam 07.00-13.00 WIB, mulai lagi dari jam 13.00-15.30 WIB. Paling banyak sehari dapat 100 kg, per kilo (upah) dibayar Rp.2000 (Rp.200.000/hari)" ujar Lisna saat ditemui Bangka Pos.

Bangka Pos kemudian berkesempatan bertemu dengan salah satu Direksi PT. Soll Marina Agro Industri, Teddy Haryono. Pasalnya kebun lada ini dipilih sebagai destinasi kunjungan Wakil Perdana Menteri Uzbekiztan. Terhitung wisatawan asing dari 12 negara sudah bertandang ke perkebunan lada ini diantaranya Amerika, Kanada, Jepang dan Singapore.

"Perkebunan ini memang jadi agrowisata. Lada di Bangka punya kualitas yang bagus karena aroma dan rasanya yang pedas dibanding daerah lain seperti Sulawesi dan Lampung,"ujar Teddy.

Panen penanaman lada pertama membutuhkan waktu 18 bulan atau 1,5 tahun. Hasilnya dalam per tahun panen yang didapat seberat 100 ton.
Soal pemasaran, Teddy mengatakan masih menyimpannya di gudang dan belum pernah menjual ekspor ke luar negeri. Rencananya PT. Soll Marina Agro Industri akan membuat label tersendiri apabila ladanya diekspor.

Hasil lada di PT ini tampak bagus, padahal sebelum merencanakan perkebunan, sempat terbersit keraguan karena kondisi lahan tanah yang berpasir.

"Pengalamannya kan lada tumbuh di tanah kuning dan berbatuan. Tapi kita lihat di sini juga bisa hidup, intinya bagaimana cara kita treatment lada dengan pupuk yang tepat. Kami juga pelihara sapi untuk ambil kompos sebagai pupuk," terang Teddy.

Penulis: Ardhina Trisila Sakti
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved