Pencairan Dana Parpol, Disebut Pengamat Politik Ini untuk Memperkuat Otonomi Parpol

Parpol selama ini mengandalkan dukungan dari dari swadaya anggota dan dukungan sponsor menyebabkan parpol seperti tersandera oleh kekuatan pemodal.

Pencairan Dana Parpol, Disebut Pengamat Politik Ini untuk Memperkuat Otonomi Parpol
bangkapos.com/teddy malaka
Dr Ibrahim

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pengamat Politik Bangka Belitung Dr Ibrahim, menyatakan rencana kenaikan bantuan dana untuk Parpol harus disikapi secara bijaksana.

Menurut Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) ini, parpol selama ini mengandalkan dukungan dari dari swadaya anggota dan dukungan sponsor menyebabkan parpol seperti tersandera oleh kekuatan pemodal.

Meski demikian, kata Dia, di tengah kondisi ekonomi negara yang kurang stabil, kenaikan ini harus dibaca sebagai perkara urgen dalam rangka menguatkan peran parpol dalam kehidupan bernegara kita.

“Saya kira, sebagai lembaga negara yang menjadi penyeimbang kekuatan politis, posisi parpol sebenarnya sangat penting. Fungsi representasi ada disana, sementara kita melihat bahwa parpol cenderung kurang otonom. Dalam mengambil keputusan, katakanlah paling sensitif dalam mengusung calon, parpol banyak terkunci oleh kekuatan negosiasional. Kondisi ini menyebabkan parpol cenderung menjadi organisasi belian dengan sedikit idealisme ideologis didalamnya,” ujar Ibrahim.

Tentunya, lanjut Ibrahim, peningkatan bantuan dana dari Rp. 108 ke Rp.1000 per suara ini dapat meningkatkan kinerja parpol secara kelembagaan. Memperkuat fungsi, otonomi, dan jati diri parpol adalah dampak dari meningkatkan dukungan pendanaan ini.

“Kita tidak ingin lagi melihat parpol yang selalu menjadi objek transaksi. Sebaliknya, parpol pun memiliki tanggung jawab lebih kepada konstituen untuk menempatkan dukungan masyarakat secara moral. Bagi kita di Bangka Belitung sendiri, meningkatkan dukungan pemerintah terhadap pendanaan parpol diharapkan dapat mendorong munculnya parpol yang lebih berkarakter, memiliki tanggungjawab moral yang kuat kepada pemilihnya, dan tentu lebih peduli pada kepentingan masyarakat luas,” tukas Ibrahim.

Ia menyarankan Parpol sebaiknya tidak lagi menjadi bancakan kalangan bermodal. Parpol harus mampu merubah stigma diri sebagai lembaga bisa dibeli. Di luar itu, ada tantangan bagi parpol untuk memilih dan menempatkan kader dalam berbagai hajatan politis yang semakin baik dan berkualitas. Parpol juga harus mampu melepaskan diri dari bayang-bayang penghamba pada kekuasaan dengan menghadirkan parpol sebagai penyeimbang pemerintahan dan kritikus yang objektif terhadap kelompok eksekutif. (Doi)

Penulis: Dody
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved