Lestarikan Budaya, Same-Same EO Gelar Festival Sembahyang Rebut

Same-Same EO yang dipimpin oleh Kwartanto akan menghadirkan artis Ibukota Daffa, Bintang Dangdut Academy 2 dan Abay Bintang Pantura

Lestarikan Budaya, Same-Same EO Gelar Festival Sembahyang Rebut
Ist
Perayaan Festival Sembahyang Rebut (Tjiat Ngiat Pan) 2017 yang akan diselenggarakan Same-Same Event Organizer di Klenteng Cetya Dharma Abadi yang puncaknya akan berlangsung pada tanggal 6 September 2017. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Same-Same Event Organizer yang eksis mengangkat nilai-nilai budaya di masyarakat akan menyelenggarakan Perayaan Festival Sembahyang Rebut (Tjiat Ngiat Pan) 2017 di Klenteng Cetya Dharma Abadi yang puncaknya perayaannya akan berlangsung pada tanggal 6 September 2017.

Untuk memeriahkan Festival Sembahyang Rebut tersebut, Same-Same EO yang dipimpin oleh Kwartanto akan menghadirkan artis Ibukota Daffa, Bintang Dangdut Academy 2 dan Abay Bintang Pantura yang akan dipandu MC Dimas dan Jojo Fahaeza.

Menurut Kwartanto, tujuannya bekerjasama dengan Ketua Klenteng Cetya Dharma Abadi Apo dan Team mengadakan Festival Sembahyang Rebut ini untuk melestarikan kebudayaan yang hampir punah di masyarakat dan mengajarkan kebudayaan kepada anak-anak sejak dini.

"Kami juga ingin menambah destinasi wisata di Bangka Belitung ini dengan adanya Festival Sembahyang Rebut bisa dikenal masyarakat baik di tingkat lokal, nasional hingga mancanegara saat datang ke Babel khususnya ke Kabupaten Bangka," ungkap Kwartanto yang juga aktif mengangkat talent pageants dari Bangka Belitung ini kepada bangkapos.com, Rabu (30/8/2017).

Menurutnya, masyarakat Tionghoa merupakan satu suku di Indonesia. Suku Tionghoa terbagi menjadi beberapa jenis yaitu Tenglang (Hokkien), Tengnang (Tiochiu), Thongnyin (Hakka), Hainan, Kantonis dan Hokchia.

Suku Tionghoa di Indonesia masih menjalankan budaya adat mereka secara turun temurun.

Diantaranya Tahun Baru Imlek, Cheng Beng, Cap Go Meh dan Waisak.

Namun ada satu adat Tionghoa yang unik merupakan tradisi ribuan tahun yang sampai sekarang masih dipertahankan di Bangka Belitung ini yakni Sembahyang Rebut.

Konon katanya pada tanggal 15 bulan tujuh penanggalan China pintu akhirat terbuka dan semua arwah keluar menuju dunia manusia.

"Arwah yang masih punya sanak saudara dipercaya pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan arwah yang tidak memiliki sanak saudara terlantar di dunia manusia. Maka dari itu manusia membuat sebuah ritual untuk arwah yang terlantar tersebut. Para arwah diberi sesaji berupa makanan minuman buah-buahan uang dan baju hal itu dilakukan dilakukan agar para arwah tersebut tidak mengganggu manusia," jelas Kwartanto.

Dikatakannya, ada satu ciri khas dari sembahyang rebut tersebut yakni sebuah patung besar yang dibangun di tengah klenteng pada perayaan Sembahyang Rebut.

Patung itu biasanya dibangun duduk di kursi tahta dengan memegang pena di sebelah kanan dan buku di sebelah kiri. Dipercaya sosok tersebut adalah Raja Neraka atau disebut Thai Se Ja oleh penduduk Bangka.

Patung besar ini dibuat khusus oleh sang ahli Jung Min alias Matador.

"Ada sebuah mitos mengatakan raja neraka jelmaan seorang Dewi yang bernama Dewi Kuan Im (Dewi Kuan Yin). Dewi Kuan Yin adalah Dewi kasih sayang bagi Suku Tionghoa. Oleh karena itu Dewi Kuan Yin menjelma menjadi menjelma menjadi Raja Neraka dengan tubuh yang besar dan wajah yang seram agar arwah-arwah tersebut patuh terhadapnya," ungkap Kwartanto.(*) 

Penulis: nurhayati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved