BangkaPos/

Kenalan di Situs Kencan, Wanita Ini Kirim Foto Toples, Eh Ujung-ujungnya Diperas

Leigh Abbot mengancam dan melakukan pemerasan menggunakan foto telanjang yang dikirim Kate.

Kenalan di Situs Kencan, Wanita Ini Kirim Foto Toples, Eh Ujung-ujungnya Diperas
ABC News
Kate menunjukkan percakapannya dengan Leigh Abbott. 

BANGKAPOS.COM - Mengapa ada orang yang mau mengirim foto telanjang mereka untuk orang lain yang tidak dikenal, lewat internet?

Bahkan, setelah itu orang tersebut malah kehilangan pekerjaan, kehilangan uang, dan kemudian bisa mengalami gangguan kejiwaan.

Pertanyaan seperti inilah yang masih menghantui Kate (bukan nama sebenarnya) selama setahun terakhir.

Kate mengalami hal yang mengubah hidupnya secara drastis.

LIKE FACEBOOK BANGKA POS:

Kate adalah satu dari belasan perempuan di Australia yang menjadi korban pemerasan pria dengan menggunakan jaringan internet. Pemerasan terjadi setelah mereka bertemu di situs kencan online.

"Kami hidup dalam ketakutan." kata Kate kepada program televisi ABC Australia, 7.30.

"Ini susah dijelaskan dan diceritakan kepada orang lain, yang tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini."

Salah seorang pria tersebut, Leigh Abbot mengancam dan melakukan pemerasan menggunakan foto telanjang yang dikirim Kate.

Program 7.30 mendapat informasi bahwa Abbot sedang mengajukan banding terhadap keputusan penjara yang dijatuhkan Pengadilan Distrik Perth bulan Mei lalu.

Bagi Kate, upaya banding itu merupakan tamparan lain yang dialaminya.

"Dia seharusnya menjalani penjara lebih lama untuk perbuatannya." kata Kate.

"Dihukum lima tahun sembilan bulan penjara merupakan hukuman ringan."

"Diperlukan waktu lebih lama untuk membuat kehidupan saya normal kembali."

"Dia mengatakan segala hal yang ingin kamu dengar."

Ketika mereka masih berkencan, Kate memiliki pendapatan yang sangat memadai. Dia bekerja di sebuah perusahaan tambang di Australia Barat.

Sekarang dia bangkrut, dan harus meminta bantuan dinas sosial untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan lain.

Selama masa delapan bulan, Kate memberikan uang sebesar sekitar Rp 1,1 miliar kepada Abbott.

Dan Kate tidak menyadari uang itu digunakan Abbott untuk berjudi dan narkoba.

Semuanya berawal dari bulan Juni 2015 ketika dia mengenal Abbott lewat situs kencan Tinder.

"Kesan pertama saya, Leigh adalah orang baik." kata Kate.

"Dia sangat ramah, dan mengatakan segala pujian yang ingin kamu dengar."

"Leigh kemudian menyarankan kami bertukar nomor ponsel, dan mulai ngobrol lewat SMS."

Pada awal pembicaraan, hanya berkisar mengenai bagaimana kabar mereka masing-masing hari itu.

"Beberapa bulan kemudian, setelah ngobrol lewat SMS, di saat saya merasa kesepian, Leigh mengirim foto dirinya sendiri."

"Saya menjawab dengan mengirim foto telanjang ke dia. Bagi saya ini cuma tindakan iseng," kata Kate.

"Saya tidak menyadari bahwa foto-foto itu kemudian digunakan untuk memeras saya.

Abbot memang pintar merayu, dan kemudian Kate setuju untuk meminjamkan uang bagi Abbot untuk membayar sewa rumah dan yang lain.

Namun utang itu tidak pernah dibayar kembali, dan bujukan kemudian berkembang menjadi ancaman.

"Ancamannya kemudian adalah dengan foto-foto yang saya kirim di hpnya, yang akan dikirimnya ke tempat kerja saya."

"Dia mengancam akan memuat di sosial media, dia akan mengirimkan ke keluarga untuk menunjukkan betapa buruknya saya."

"Saya menangis setiap malam. Saat saya mendengar suara 'bip' di hp saya dan jantung saya langsung berdebar."

"Dia kemudian juga mengancam anak-anak saya, bahwa dia akan membakar rumah dengan anak-anak saya di dalamnya."

"Saya tidur dengan pisau di kasur, dan anak-anak saya tidur di kamar saya."

Kate tidak mengetahui ketika itu bahwa dia bukanlah satu-satunya yang diperas Abbott.

Abbott memiliki 11 korban lain yang tersebar di Australia Barat, Queensland, dan Tasmania.

Tiga diantaranya juga diperas karena foto telanjang. Yang lainnya, diancam bahwa mereka akan didatangi anggota gang dari kelompok motor gede.

Kepolisian Australia Barat mengumpulkan belasan ribu percakapan SMS untuk membuktikan tindak kriminal yang dilakukan Abbott.

"Dia pada dasarnya berusaha menyebar pesona ke banyak orang, karena mengetahui beberapa di antara mereka akan tertarik dengannya."

Demikian dikatakan Detektif Senior Constable Andrew Curtis.

"Pada akhir penyelidikan, ketika dia ditangkap polisi, dia sama sekali tidak memiliki aset, tidak memiliki mobil, tidak memiliki uang."

"Dia tidak punya apa-apa."

Tidak ada hukum konsisten di Australia

Para peneliti di Australia mengatakan, apa yang mereka sebut sebagai 'sextortion' (pemerasan menggunakan bahan-bahan bernada seksual) semakin meningkat.

Dukungan terhadap korban juga meningkat, tetapi Dr Nicola Henry dari RMIT di Melbourne, menilai perlunya kampanye penyadaran dengan fokus pada pelaku, bukan pada korban.

"Banyak orang yang menyalahkan korban mengenai adanya pemerasan menggunakan gambar bernada seksual ini."

"Misalnya dalam survei yang kami lakukan, 70 persen responden mengatakan setuju dengan pernyataan bahwa kita seharusnya lebih sadar untuk tidak mengirimikan gambar telanjang ke orang lain."

"Kita harus mengirim pesan bahwa mengambil foto orang lain tanpa ijin mereka adalah hal yang keliru," sebut Henry.

"Kita juga harus mengirim pesan bahwa membagi-bagikan gambar adalah hal yang salah."

Dia mengatakan, hukum yang konsisten di seluruh Australia akan bisa membantu.

"Sebagian dari masalahnya adalah kita baru dalam tahap awal memahami dampak dan keburukan yang dirasakan korban."

"Di beberapa negara bagian, sudah ada hukum mengenai larangan penyebaran gambar tanpa persetujuan, sementara di tempat lain belum ada."

Ini membuat susah untuk mengajukan pelakunya ke pengadilan.

Diperlukan waktu tujuh bulan sejak Kate melaporkan kasusnya sampai kepolisian Australia Barat melihat adanya pola pemerasan.

Polisi lalu menangkap Abbott, dan menetapkannya sebagai tersangka, dan akhirnya dinyatakan bersalah di pengadilan.

Pemerintah Australia Barat berencana menerapkan peraturan khusus mengenai penyebaran gambar bernada seksual tahun depan. (ABC Radio Australia)

Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help