BangkaPos/

Lembaga Survei Asal Singapura Mengukur Keislaman Orang Indonesia, Ini Hasilnya

Muslim merupakan 86,2 persen dari ukuran sampel (sesuai dengan konsensus 2011 yang memasukkannya ke 87,2 persen).

Lembaga Survei Asal Singapura Mengukur Keislaman Orang Indonesia, Ini Hasilnya
TRIBUN/BIAN HARNANSA
Foto udara menunjukan massa Aksi Damai 212 memenuhi kawasan silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12/2016). Massa aksi menggelar salat Jumat bersama lalu menggelar dzikir dan doa untuk kebaikan bangsa dan negara. TRIBUNNEWS/BIAN HARNANSA 

BANGKAPOS.COM -- Ada banyak tanda bahwa Indonesia telah mengalami konservatisme yang meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, seperti meningkatnya pengaruh garis keras Islam terhadap politik.

Tapi seberapa konservatif pandangan rata-rata orang Indonesia?

Dikutip dari laman coconuts.co, menurut ISEAS - Yusof Ishak Institute yang berkantor di Singapura, sebuah kelompok pemikir yang mempelajari tren sosio-politik, keamanan dan ekonomi di Asia Tenggara, hasil baru-baru ini hasil survei yang menunjukkan persentase signifikan Muslim Indonesia berpandangan bahwa dapat dianggap sangat konservatif. 

Polling untuk "Proyek Survei Nasional Indonesia: Ekonomi, Masyarakat dan Politik" (INSP) berlangsung dari tanggal 20-30 Mei dan dilaksanakan di 34 provinsi di Indonesia (segera setelah pemilihan gubernur di Jakarta).

Muslim merupakan 86,2 persen dari ukuran sampel (sesuai dengan konsensus 2011 yang memasukkannya ke 87,2 persen).

Mereka yang diidentifikasi sebagai muslim ditanyai tentang peran Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka.

"Untuk pertanyaan apakah akan ada manfaat apapun untuk penerapan undang-undang syariah, 90,9 persen setuju bahwa akan ada berbagai manfaat, sementara hanya 9,07 persen menganggap bahwa 'keuntungan akan sangat terbatas atau tidak benar'."

Sebagai perbandingan, sebuah survei Pew Research Center 2013 menunjukkan bahwa 72 persen populasi Muslim di Indonesia menyukai kode hukum Islam sebagai "hukum resmi" jika diberi pilihan.

Hasil survei INSP yang baru menunjukkan alasan paling populer untuk menerapkan hukum syariah, yang dipilih oleh 67,2 persen responden.

Adalah bahwa "hukum syariah akan membantu memperkuat nilai-nilai moral di masyarakat. Laporan tersebut berpendapat bahwa hukum syariah di Indonesia dianggap "tidak sebanyak pengenaan sistem sosio-legal tertentu, namun sebagai tindakan untuk menjaga nilai-nilai moral di masyarakat."

Temuan lain yang dicatat oleh laporan tersebut adalah bahwa 82,1 persen responden Muslim setuju bahwa semua wanita Muslim harus mengenakan jilbab.

"Sementara proporsi sangat sedikit berbeda di mana gender dan lokasi yang bersangkutan, mereka yang memiliki pendidikan rendah (83,8 persen) dan pendidikan tinggi (88,9 persen) cenderung setuju bahwa wanita harus memakai jilbab, dan semakin rendah pendapatan responden, lebih mungkin mereka setuju perempuan harus mengenakan jilbab. "

Pada serangkaian isu lain mengenai persimpangan kehidupan religius dan ranah publik, banyak isu konservatif mendapat dukungan lebih lemah namun mayoritas setuju bahwa "Penghujatan terhadap Islam harus dihukum lebih parah lagi" dan "Saat memilih dalam pemilihan. Sangat penting untuk memilih pemimpin Muslim.

Graph: ‘The Indonesia National Survey Project’ / ISEAS – Yusof Ishak Institute
Graph: ‘The Indonesia National Survey Project’ / ISEAS – Yusof Ishak Institute (ISEAS)

Data survei dikumpulkan melalui wawancara tatap muka dengan 1.620 orang dewasa warga negara Indonesia yang menggunakan metode sampling multi tahap untuk mewakili seluruh provinsi di Indonesia.

Sumber: coconuts.co

Penulis: teddymalaka
Editor: teddymalaka
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help