BangkaPos/
Home »

News

» Jakarta

Bayi Debora Meninggal Dunia, Dinkes Ungkap Kesalahan Awal RS Mitra Keluarga

Bayi berusia 4 bulan ini diduga tak bisa mendapat perawatan maksimal karena adanya aturan dari rumah sakit soal biaya.

Bayi Debora Meninggal Dunia, Dinkes Ungkap Kesalahan Awal RS Mitra Keluarga
Tribunnews.com
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kisah meninggalnya bayi bernama Tiara Debora viral sejak 8 September 2017.

Bayi berusia 4 bulan ini diduga tak bisa mendapat perawatan maksimal karena adanya aturan dari rumah sakit soal biaya.

Bayi Tiara Debora akhirnya meninggal pada Minggu (3/9/2017) lalu.

Orang tua korban, Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi meminta Pemprov DKI Jakarta turun tangan untuk memperbaiki prosedur di rumah sakit.

Sementara itu, pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kalideres, Jakarta Barat, dalam konferensi persnya menyatakan, pasien (Tiara Debora) dengan riwayat lahir premature memiliki riwayat penyakit jantung bawaan (PDA) dan keadaan gizi kurang baik.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menceritakan kronologi kejadian meninggalnya Tiara Debora, putri pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (3/9/2017) lalu.

Berdasarkan pengakuan pihak RS, Koesmedi menyampaikan bahwa pihak keluarga tak menyebutkan apabila mereka akan mendaftarkan perawatan Debora menggunakan BPJS Kesehatan.

"Syarat untuk masuk ke ruang PICU itu untuk awal, rumah sakit tersebut tidak tahu ini (Debora) peserta BPJS, baru diketahui sekitar enam jam kemudian. Sebelumnya, pasien mengurus biaya administrasi masuk ke PICU, (lalu) diberikan informasi itu ke keluarga pasien," ujar Koesmedi di Gedung Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Senin (11/9/2017).

Kemudian, orangtua Debora mengatakan hanya memiliki uang sebesar Rp 5 juta, sedangkan syarat perawatan di dalam ruang PICU mengharuskan pasien membayar uang muka (DP) sebesar 50 persen.

"Ini kesalahan dari awal, seharusnya pasien ditanyakan pembiayaan dibayar oleh siapa? Ternyata pasien punya BPJS. Kalau itu BPJS, maka pendanaan pembiayaan untuk kegawatdaruratan sampai pasien itu stabil, mengunakan perawatan di PICU, bisa ditagihkan ke BPJS," katanya.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help