Uskup Adrianus Sunarko Napak Tilas Sejarah Keuskupan di Sungaiselan

Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko, OFM yang akan ditahbis pada Sabtu (23/9) melakukan napak tilas sejarah

Uskup Adrianus Sunarko Napak Tilas Sejarah Keuskupan di Sungaiselan
istimewa
Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko, OFM ziarah ke makam awam katolik Paulus Tsen On Ngie di Sungaiselan, Kamis (14/9)

Laporan Wartawan Bangka Pos, Respi Leba

BANGKA POS.COM, BANGKA--Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko, OFM yang akan ditahbis pada Sabtu (23/9) melakukan napak tilas sejarah keuskupan Pangkalpinang ke Sungai Selan, Kamis (14/9).

Napak tilas dilakukan dengan mengunjungi makam Paulus Cen On Ngie yang hari ini genap 137 tahun wafatnya rasul awam Keuskupan Pangkalpinang, Paulus Cen On Ngie yang meninggal pada 14 September 2857.

Ketua Umum Panitia Tahbisan Uskup, Pastor Agustinus Dwi Pramodo menjelaskan tanggal 14 September merupakan tanggal bersejarah dalam sejarah Keuskupan Pangkalpinang.

"Hari ini, pada 14 Sept 1857 wilayah Gereja Sungaiselan, Stasi Jauh Dari Vikariat Apostolic Batavia, ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Santo Fransiskus Xaverius Sungaiselan. Hari ini, Pastor Paroki Sungaiselan meninggalkan Batavia menuju Bangka. Hari ini, Rasul Awam Paulus Tsen On Ngi, yangg dalam keadaan sakit parah, menanti kedatangan Pastor Paroki SFX Sungaiselan dan berharap dpt menerima
Urapan Minyak Suci sebelum meninggal. Namun Pastor Baru tiba keesokan harinya.
Hari ini pada 14 September 2857 Rasul Awam Gereja Keuskupan Pangkalpinang Wafat. Hari ini, 137 Tahun setelah Wafatnya Paulus Tsen On Ngie," cerita Pastor Pramodo.

Lebih lanjut, Pastor Hendra, mantan Vikjen Keuskupan Pangkalpinang ini menjelaskan sejak zaman dahulu pulau Bangka dan Belitung sudah terkenal dengan tambang timahnya.

Pada akhir abad XVII banyak orang Tionghoa datang di pulau Bangka, Belitung dan Kepulauan Riau.

Mereka bekerja di tambang-tambang timah sebagai kuli-kontrak. Sehabis kontrak mereka pulang ke negeri asal. Tetapi ada juga yang menetap.

"Pada permulaan abad XIX datanglah seorang tabib Tiongkok bernama Paulus Tsen On Ngie. Konon dia baru menjadi katolik ketika ia berkunjung ke daerah Penang. Di sanalah dia dibaptis. Ketika tiba di Bangka (Sungaiselan), ia merasa sangat kasihan terhadap keadaan hidup orang-orang sebangsanya yang bekerja di tambang- tambang timah sebagai kuli-kontrak. Keadaan hidup mereka itu memang sungguh menyedihkan. Semua orang Tionghoa itu pendatang, dan setelah kontrak mereka dengan perusahaan tambang timah habis, umumnya mereka pulang ke Tiongkok.
Perhatian terhadap nasib para buruh tambang itu sangat minim," jelas Pastor Hendra.

Tergerak oleh belas kasihan, lanjutnya bercerita, Paulus memberikan pelayanan kesehatan.

Halaman
12
Penulis: respisiusleba
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help