BangkaPos/

Krisis Rohingya: Aung San Suu Kyi Memiliki 'Kesempatan Terakhir'

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi memiliki "kesempatan terakhir" untuk menghentikan serangan tentara terhadap ratusan ribu etnik rohingya

Krisis Rohingya: Aung San Suu Kyi Memiliki 'Kesempatan Terakhir'
KENICHIRO SEKI / POOL / AFP
Pemimpin pro-demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi. 

BANGKAPOS.COM--Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi memiliki "kesempatan terakhir" untuk menghentikan serangan tentara yang memaksa ratusan ribu etnik Rohingya - yang sebagian besar Muslim- melarikan diri ke luar negeri, seperti disampaikan PBB.

Dalam wawancara di program HARDtalk BBC menjelang Sidang Umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa Aung San Suu Kyi memiliki kesempatan terakhir untuk menghentikan serangan itu.

"Jika dia tidak membalikkan situasi saat ini, maka saya pikir tragedi itu akan sangat mengerikan, dan sangat disayangkan saya tidak dapat melihat bagaimana ini dapat diselesaikan di masa mendatang."

Dia juga mengatakan sangat jelas bahwa militer Myanmar "masih berada di atas angin" di negara tersebut, dengan memberi tekanan "untuk dapat melakukan apa yang terjadi di lapangan" di Rakhine.

Suu Kyi dijadwalkan berpidato di hadapan majelis pada Selasa mendatang, tetapi tidak akan menghadiri Sidang Umum PBB di New York.

Aung San Suu Kyi - peraih nobel perdamaian yang menghabiskan beberapa tahun dalam tahanan rumah di bawah junta militer Myanmar (Burma) - saat ini menghadapi banyak kritik dalam kasus Rohingya.

Suu Kyi mengklaim krisis ini telah merupakan "puncak gunung es informasi yang salah", dan mengatakan ketegangan yang terjadi dipicu oleh berita palsu yang mempromosikan kepentingan teroris.

PBB telah memperingatkan bahwa serangan dapat dianggap sebagai pembersihan etnik.

Myanmar mengatakan tindakan itu sebagai respon terhadap serangan mematikan yang dilakukan militan dan membantah menargetkan warga sipil.

Hak atas fotoREUTERSImage captionSuu kyi tidak akan menghadiri Sidang Umum PBB di New York.
Militer melakukan operasi setelah serangan terhadap polisi di bagian utara Rakhine pada 25 Agustus lalu, yang menewaskan 12 orang aparat keamanan.

Halaman
12
Editor: khamelia
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help