BangkaPos/

Mengenal Bubur Suro, Sajian Khas Peringatan 1 Muharram yang Sarat Makna

Masyarakat Jawa menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro. Harus diingat, bubur suro bukanlah sesajen

Mengenal Bubur Suro, Sajian Khas Peringatan 1 Muharram yang Sarat Makna
kompasiana.com
Bubur suro 

BANGKAPOS.COM - Tanggal 1 Suro (1 Muharram dalam tarikh Islam atau 1 Asyura) diperingati oleh masyarakat Jawa dengan cara khas dan dilaksanakan secara turun-temurun selama berabad-abad.

Seperti halnya dalam tradisi dan budaya yang lain, setiap ritual pelintasan (rites of passage) selalu diiringi dengan elemen kuliner sebagai lambang.

Masyarakat Jawa menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro.

Dalam konsep Jawa, setelah lewat pukul empat petang dianggap sudah memasuki hari baru esok.

Harus diingat, bubur suro bukanlah sesajen yang bersifat animistik.

Bubur suro syarat dengan lambang, dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan sebagai alat (uba rampe dalam bahasa Jawa) untuk memaknai 1 Suro atau Tahun Baru yang akan datang.

Bubur suro dibuat dari beras, santan, garam, jahe, dan sereh.

Rasanya gurih dengan nuansa asin-pedas tipis.

Di atas bubur ini ditaburi serpihan jeruk bali dan bulir-bulir buah delima, serta tujuh jenis kacang.

Yaitu: kacang tanah, kacang mede, kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tholo, kacang bogor – sebagian digoreng, sebagian direbus.

Halaman
1234
Editor: khamelia
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help