BangkaPos/
Home »

Lokal

» Bangka

Pabrik Tapioka PT BAA Buka Tutup, Bikin Petani Pusing

Menurutnya jika pabrik buka tutup menyulitkan petani untuk mengembalikan modal berkebun

Pabrik Tapioka PT BAA Buka Tutup, Bikin Petani Pusing
Bangkapos/Nurhayati
Pertemuan antara petani didampingi Simpul Babel dengan pihak PT Bangka Asindo Agri, Rabu (20/9/2017) di Ruang Pertemuan PT BAA 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Perwakilan Petani Imam yang berdomisili di Dusun Mapur Desa Cit Kecamatan Riausilip Kabupaten Bangka mengaku mereka sudah berkebun singkong kasesa karena mengikuti anjuran Pemerintah Kabupaten Bangka.

Dimana dengan  adanya program Kebun Singkong Rakyat (KSR), Pemkab Bangka membantu menyediakan traktor dan bibit singkong kasesa.

Hasil singkong petani ini ditampung Pabrik Tapioka PT Bangka Asindo Agri (BAA) sehingga pihaknya melihat ini sebagai peluang usaha yang diharapkan bisa menguntungkan petani.

"Kami petani sudah senang ada penampung produk kami.Ternyata dalam perjalanannya setelah buka pada Mei 2017 dalam perjalanannya bulan September hampir lima bulan tidak mulus tersendat-sendat. Di pabrik ini sudah berapa kali jalan kemudian berhenti. Jadi kami bingung sebagai petani. Mau dibawa kemana barang kami ini," keluh Imam didampingi Ketua Simpul Babel Ujang Suprianto kepada Koni alias Akon Penanggung Jawab Pabrik PT BAA, Djit Lit selaku Penanggung Jawab Lapangan PT BAA dan Rida selaku Kepala Admin dan Penanggung Jawab Bakteri PT BAA yang menerima perwakilan petani dan Simpul Babel di ruang pertemuan PT BAA.

Keluhan yang sama juga disampaikan Imam kepada Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Bangka Marwan Zahfari di Ruang Kerja Sekda Bangka.

Menurutnya jika pabrik buka tutup menyulitkan petani untuk mengembalikan modal berkebun.

Sedangkan sebentar lagi musim tanam tetapi tidak bisa menanam lagi karena tidak ada modal.

Disisi lain usia singkong mereka sudah lebih dari usia panen. Padalah dari awal mereka bisa mengikuti program pemerintah KSR.

"Ubi kami ini ada yang umurnya sudah 16 bulan, 17 bulan padahal standar panen adalah dalam umur 10 sampai 12 bulan," sesal Imam.

Menurutnya petani di Lampung dengan umur standar sudah dua kali panen, sedangkan petani di Kabupaten Bangka baru sekali panen terhambat.

"Problem kami bertubi-tubi. Modal sudah tertanam lama nggak bisa kami angkat pada saat mau panen pabriknya tersendat-sendat seperti ini. Pusing sebagai petani kita sudah ikuti program pemerintah penampung ada dalam perjalanannya buka tutup buka tutup. Masalah teknisnya ada di pabrik. Kami ngak ngerti. Kami berharap bagaimana pabrik ini bisa buka terus. Jadi menolong kami sebagai petani," pinta Imam.

Selain itu juga menurutnya, yang menjadi problem krusial petani singkong kesulitan mendapatkan tenaga panen di Bangka. Hampir semua petani dari Belinyu hingga Payung kesulitan tenaga panen.

Mendatangkan tenaga panen dari Lampung juga tidak gampang banyak persoalan baru yang muncul karena operasional pabrik yang buka tutup.

"Pabrik lancar buka enak kita menghandle tenaga panen itu tetapi kalau buka tutup misalnya kita panen seminggu terus tutup lagi dua minggu tenaga panen ini bubar. Secara moral kami bertanggung jawab memberi makan mereka Padahal mereka tidak kerja dengan kami akibat pabrik tutup. Iya kalau ada kerjaan yang bisa kami kerjakan ke mereka,misalnya nanam. Sekarang nggak bisa nanam karena musim kemarau. Problem kami bertubi-tubi sebagai petani," jelas Imam.

Ia berharap pemerintah daerah membantu karena rekomendasi dari Pemkab Bangka juga untuk tutup sementara. Dia berharap secepatnya Pabrik Tapioka PT BAA bisa beroperasional kembali sehingga panen singkong petani bisa dijual.(*) 

Penulis: nurhayati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help