BangkaPos/

Kisah Dibalik Meletusnya Gunung Agung 1963, Antara Bencana Alam, Mistik, dan Kecurangan

Hiruk pikuk dan ratap tangis, itulah yang dihadapi warga Kab. Karangasem, dan masyarakat Bali umumnya, ketika G. Agung meletus, Maret 1963

Kisah Dibalik Meletusnya Gunung Agung 1963, Antara Bencana Alam, Mistik, dan Kecurangan
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa/Rizal Fanany
Masyarakat di sekitar Gunung Agung semakin banyak yang mengungsi. 

BANGKAPOS.COM--Hampir bisa dipastikan setiap kali terjadi musibah, selalu muncul kisah pedih diselingi adanya keanehan tapi sering juga kecurangan, terutama bila sudah menyangkut dana bantuan.

Beberapa musibah gempa, banjir serta tanah longsor belakangan ini, mengingatkan kita pada kisah-kisah seputar meletusnya G. Agung tahun 1963 lalu.

Tak seorang pun mengharapkan datangnya bencana, apa pun bentuknya.

Entah itu gempa bumi, banjir, tanah longsor atau meletusnya sebuah gunung.

Hiruk pikuk dan ratap tangis, itulah yang dihadapi warga Kab. Karangasem, dan masyarakat Bali umumnya, ketika G. Agung meletus, Maret 1963.

Gunung Agung difoto dari udara, beberapa waktu lalu.
Gunung Agung difoto dari udara, beberapa waktu lalu. (Kompas.com/Bambang P Jatmiko)

Setelah bencana lewat, yang tersisa hanya reruntuhan bumi, pasir dan batu serta sederet cerita yang masih bisa dikenang terus.

Semula gunung tersebut dianggap sudah "mati". Beberapa sumber memang menegaskan hal itu.

Misalnya atlas tentang Bali terbitan Belanda 1950 hanya menyebutkan Batur sebagai gunung yang masih aktif.

Sementara laporan dari atase pers Kedubes AS di Jakarta dan Radio Suara Amerika saat kejadian tahun 1963, menyebutkan bahwa G. Agung  meletus terakhir kalinya 120 tahun lalu dan sejak itu tak ada lagi tanda-tanda kehidupannya.

Wallace dalam kunjungannya ke Bali tahun 1880 mengatakan Agung sebagai "gunung api yang besar" tanpa menyebut-nyebut kapan pernah meletus.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help