BangkaPos/

Berat Gadis 12 Tahun Ini Cuma 11 Kilogram, Butuh Uluran Tangan

erempuan enam anak itupun tak bisa menyembunyikan sedihnya karena kondisi Dini. Suaranya terdengar berat dan serak saat menceritakan derita Dini.

Berat Gadis 12 Tahun Ini Cuma 11 Kilogram, Butuh Uluran Tangan
Bangka Pos/Evan Saputra
DINI Lestari (kiri) didampingi ibunya, Misnah saat ditemui Bangka Pos, Minggu (24/9). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Beralaskan karpet tipis hijau, Dini Lestari (12) bersandar pada bantal yang disusun tegak. Tubuhnya kurus seakan hanya tulang berbalut kulit. Kondisi ini dialami Dini setelah tujuh bulan lalu mengalami demam. Belakangan dia dideteksi mengalami komplikasi tumor, paru, dan gizi buruk.

Minggu (24/9/2017) siang lalu, Bangka Pos mendatangi sebuah tempat usaha cetak batako di Desa Mangkol, Kabupaten Bangka Tengah. Di sana, Jono, ayah Dini sedang sibuk mengangkut batako ke bak truk.

Setelah melihat kedatangan Bangka Pos, Jono berhenti bekerja dan mengantar Bangka Pos ke rumah kontrakan yang dihuninya bersama Misnah (39) bersama anak-anaknya.

Rumah yang dituju Bangka Pos dan Jono adalah sebuah bangunan semipermanen di Desa Terak, Kabupaten Bangka Tengah. Rumah itu berjarak sekitar 10 menit dari tempat Jono bekerja. Sesampainya di sana, Jono meninggalkan Bangka Pos karena masih harus bekerja.

Di rumah yang tampak kosong, Bangka Pos mendapati Dini yang ditemani ibunya, Misnah. Perempuan enam anak itupun tak bisa menyembunyikan sedihnya karena kondisi Dini. Suaranya terdengar berat dan serak saat menceritakan derita Dini.

"Sudah tujuh bulan sakitnya, badannya sudah sangat kurus. Dulu beratnya 35 kilo, sekarang cuma 11 kilo, kata dokter sudah komplikasi semua, disuruh bawa ke Jakarta untuk dikemo tapi kita tidak mampu, karena kata dokter ada tumor, paru, dan gizi buruk," kata Misnah.

Awalnya, lanjut Misnah, Dini menderita demam. Setelah itu muncul benjolan di bagian bawah perut Dini. Meski sempat dibawa berobat ke rumah sakit, kondisi kesehatan Dini belum pulih. Karena terbentur biaya, anak keempat Misnah itupun terpaksa dirawat di rumah.

Misnah mengaku tak mampu lagi membawa Dini ke rumah sakit. Saat ini, keluarga hanya mengobati Dini ke dukun kampung.

"Pernah dibawa RSUD pangkalpinang dua kali pakai BPJS tapi tetap saja keluar biaya, pernah dibawa juga ke bakti wara pakai dana pribadi, kami sudah itu tidak sanggup lagi bawa ke rumah sakit, uang saja habis untuk berobat, makan keluarga dan bayar kontrakan, saya tidak sanggup lagi karena tidak ada lagi biaya," ujarnya.

Walau dirawat di rumah yang disewa Rp 300.000 per bulan, Misnah menceritakan Dini harus mengisap oksigen saat mengalami sesak napas karena gangguan paru-paru. Ada satu alat oksigen untuk bantuan pernapasan dengan tabung berukuran satu meter yang dipinjam dari puskesmas untuk pengobatan Dini.

Halaman
12
Penulis: Evan
Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help