Dari Kapolsek hingga Kapolda Silih Berganti tapi Tambang Ilegal Sungai Perimping Tetap Berjalan

Untuk wilayah bakau di wilayah Tirus dan sekitarnya lebih kurang 70 ponton TI apung yang beroperasi, berada di dalam bakau

Dari Kapolsek hingga Kapolda Silih Berganti tapi Tambang Ilegal Sungai Perimping Tetap Berjalan
IST
TI apung di Sungai Perimping 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA --Sudah beberapa kali pergantian, Kapolsek, Kapolres hingga Kapolda, namun persoalan maraknya tambang timah ilegal (TI) di kawasan sungai hutan bakau Perimping-Tirus Riausilip-Belinyu tak kunjung tuntas.

Razia yang dilakukan petugas, beberapa waktu sebelumnya, seolah hanya angin lalu, penambang tetap saja merajalela.

Kali keluhan kembali disampaikan nelayan lokal dari Kecamatan Riausilip-Belinyu Bangka. Untuk kesekian kalinya, mereka bersuara. Rusaknya habitat di wilayah tangkap mereka, tentu menjadi alasan utama. Nelayan menjerit, karena penambang ilegal tetap saja membandel.

Suara nelayan lokal perwakilan dua kecamatan itu disampaikan kepada Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Bangka, Ridwan. Nelayan berharap, aspirasi mereka ditindak-lanjuti oleh Ketua HNSI Bangka ke pejabat daerah, khususnya Kapolda Babel. Intinya gar tambang liar di kawasan Tirus-Perimping Riausilip-Belinyu, diberantas hingga ke akar-akarnya.

"Karena laporan dari warga dan masyarakat nelayan di wilayah Tirus dan sekitarnya, bahwa tambang inkonvensional masih terus merajalela," kata Ketua HNSI Bangka, Ridwan kepada Bangka Pos Group, Senin (2/10/2017).

Penambang liar ini, menurut laporan nelayan, kata Ridwan, semakin brutal, Tak hanya aliran sungai, wilayah tangkap yang dirambah, namun fasilitas umum ikut dirusak. "TI merambah Jembatan Perimping dan kerja pada malam hari," kata Ridwan, masih mengutip laporan para nelayan kepadanya.

Apakah itu berarti ada oknum aparat sebagai beking di balik penambangan ini? Ridwan belum berani memastikan. Yang jelas pada intinya, HNSI Bangka akan mengangkat suara nelayan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Untuk wilayah bakau di wilayah Tirus dan sekitarnya lebih kurang 70 ponton TI apung yang beroperasi, berada di dalam bakau," katanya.

Ridwan berharap, pihak kepolisian dan aparat berwenang lainnya turun tangan. Aktifitas tambang ilegal yang dimaksud sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Apalagi aktifitas terlarang itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam.

"Mohon untuk ditindak-lanjuti terkait masalah laporan masyarakat nelayan dan warga tersebut. Kami dari HNSI Bangka, meminta kepada Kapolda Babel untuk segera menertibkan di wilayah ini," harap Ridwan menyampaikan aspirasi nelayan yang dimaksud.

Penulis: ferylaskari
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved