Perayaan Hari Batik Nasional, Pedagang Batik Kecipratan Rejeki

Masyarakat Indonesia patut berbangga hati memiliki batik sebagai warisan budaya yang telah diakui UNESCO

Perayaan Hari Batik Nasional, Pedagang Batik Kecipratan Rejeki
bangkapos.com/Idandi Meika Jovanka
Baju Batik 

Laporan Wartawan Posbelitung, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA  - Masyarakat Indonesia patut berbangga hati memiliki batik sebagai warisan budaya yang telah diakui UNESCO.

Seiring waktu batik terus berkembang terutama di era milenial, baik motif, warna, dan desain semakin kekinian. Bertepatan pada hari batik nasional, bangkapos memantau antusiasme warga dalam membeli busana tersebut di sejumlah pedagang di Bangka Trade Center (BTC), Senin (2/10).

Satu diantaranya, Riva penjaga Tokoh Batik La Pantas mengatakan adanya peningkatan jumlah pembeli mendekati hari batik nasional, kenaikan tersebut terhitung seminggu lalu. Menurutnya, penambahan daya beli dikarenakan sejumlah karyawan dan anak sekolah diwajibkan mengenakan batik guna memperingati hari tersebut.

"Kenaikannya tidak banyak bekisar 30 persen. Meskipun tidak signifikan,minimal masih ada yang beli" kata Riva

Riva menjelaskan motif yang paling banyak diminati saat ini adalah parang, lalu model tanggan terompet menjadi kegemaran kaum perempuan. Ia juga mengatakan barang dagangannya berasal dari Jakarta, baik kain maupun konveksi penjahitnya. Harganya pun beragam tergantung model dan bahan, sekitar Rp 110.000 s.d Rp 160.000.

Ia menilai masyarakat pangkalpinang mengenakan batik hanya sebatas kegiatan formal saja. Seperti menghadiri kondangan, pakaian buat kerja atau ngantor, dan anak-anak sekolah yang punya hari wajib menggunakan batik.

"Yuk, ukuran m," sahut Desi

Desi menemani suaminya berbelanja batik di La Pantas, matanya bergerak mengikuti tanggannya yang asik menggeser hangger. Setelah pilihan jatuh pada batik berwarna coklat, ia membantu sang suami mengenakannya guna mengecek kepantasan saat memakai baju tersebut.

Desi menceritakan ia membelikan suaminya batik karena mendapat undangan pernikahan temannya yang dilaksanakan Minggu ini. Baginya, Batik adalah pilihan tepat buat menghadiri pesta pernikahan. Sebab, stigma masyarakat menganggap bahan busana tersebut sebagai pakaian formal.

"Kebetulan ada kondangan minggu ini. Jadi, saya sengaja belikan suami batik karena cocok buat acara formal seperti itu," jelas Desi.

Setelah asik bercengkrama dengan tokoh La Pantas, Bangkapos menelusuri lagi tokoh batik lainnya yaitu tokoh Nana. Mia penjaga tokoh Nana mengatakan model terbaru buat perempuan adalah balon. Lalu, model buat lagi-lagi masih kemeja varian lengan panjang dan pendek.

Mia menyebutkan motif kegemaran masyarakat Bangka masih relatif, tergantung selerah. Batik buat anak-anak menjadi produk terlaris di Tokohnya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Khusus anak perempuan biasanya suka beli rok terusan.
"Harga Rp 100.000," kata Mia

Mia menambahkan produk di tokohnya merupakan hasil desain dan jahitan dari konveksi sendiri, tetapi bahan dasar kainnya di beli dari tokoh tekstil di Jakarta. Konveksinya terletak di Kampung Kramat, kemudian kiosnya ada dua di BTC. Sama halnya dengan Riva, Mia juga menilai penggunaan batik di Pangkalpinang hanya buat acara formal.

"Kalau untuk dikenakan sehari-hari seperti jalan atau hang out masih kurang. Palingan Ibu-ibu yang gemar menggunakan daster bermotif batik saja buat santai di rumah," kata Mia. (p1)

Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved