BangkaPos/

Equatorial Guinea, Negara yang Hampir Dikudeta oleh Tentara Bayaran dan Pemasok Senjata

Upaya kudeta di negara Republik Equatorial Guinea memang tak bisa dilepaskan dari seseorang yang berprofesi sebagai pengusaha sekaligus

Equatorial Guinea, Negara yang Hampir Dikudeta oleh Tentara Bayaran dan Pemasok Senjata
Vice.com
Pasukan bayaran di bawah pimpinan Simon Mann 

Sedangkan untuk penyandang dana kudeta, Mann menggandeng Mark Thatcher, putera mantan PM Inggris Margareth Thatcher.

Mark selama ini dikenal sebagai investor di Guinea dan telah menjalin kerjasama dengan Mann. Khususnya untuk pengadaan dana serta transportasi logistik.

Namun kudeta yang dirancang Simon itu akhirnya gagal karena pemerintah Zimbabwe yang curiga lalu menahan pesawat yang ditumpangi Simon dan anak buahnya.

Mereka dikenai tuduhan telah melanggar aturan imigrasi, kepemilikan senjata ilegal dan menggunakan fasilitas Zimbabwe untuk melancakan kudeta terhadap Guinea.

Simon Mann berusaha berkelit bahwa pesawat yang disewanya akan terbang menuju kongo.

Tapi pemerintah Zimbabwe tak mau percaya, Simon Mann dan anak buahnya lalu ditahan dan diadili.

Mann sendiri harus mendekam di penjara Zimbabwe selama 7 tahun. Sedangkan Mark Thatcher berhasil diringkus di rumahnya, Cape Town, Afrika Selatan.

Terkait ulah Simon Mann di Equatoral Guenia, Indonesia sebenarnya juga pernah mengalami kejadian serupa.

Ketika pada tahun 1958 di Indonesia meletus pemberontakan PRRI/Permesta sejumlah tentara bayaran dan juga agen CIA terbukti turut terlibat dalam upaya pemasokan senjata.

Salah seorang tentara bayaran yang sekaligus agen CIA, Allan Pope bahkan tertangkap sehingga keterlibatan militer AS dan CIA dalam aksi pemberontakan PRRI/Permesta berhasil dibongkar.

Pemberontakan PRRI/Permesta sendiri berhasil ditumpas dan gagal menumbangkan pemerintah RI di bawah pimpinan Presiden Soekarno.(*)

Artikel ini tayang di intisari.grid id dengan judul "Senjata Ilegal: Belajar dari Equatorial Guinea, Negara yang Hampir Dikudeta oleh Pemasok Senjata"

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help