BangkaPos/

Forum Puspa Menambah Kekuatan Bagi Dinas PPA Daerah

Direktur Asdep Kementerian PP, Ihsan menjelaskan keberadaan forum Puspa di Bangka Belitung ini sebagai amunisi tambahan

Forum Puspa Menambah Kekuatan Bagi Dinas PPA Daerah
bangkapos.com/Agus Nuryadhyn
Peserta Diskusi Forum Puspa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Agus Nuryadhyn

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Diskusi kelompok kerja (pokja) Forum
Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Bangka Belitung merupakan kegiatan lanjutan.

Forum Puspa dibawah Koordinasi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan Catatan Sipil Pengendalian Penduduk dan KB Bangka Belitung, menggelar pertemuan berlangsung di Manumbing Harritage Hotel, Selasa (3/10/2017).

Dalam pertemuan forum mendatangkan narasumber Samsuri Kepala Divisi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT TImah (Persero) Tbk dan Ihsan Direktur Asisten Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI.

Direktur Asdep Kementerian PP, Ihsan menjelaskan keberadaan forum Puspa di Bangka Belitung ini sebagai amunisi tambahan bagi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan catatan Sipil Pengendalian Penduduk dan KB Bangka Belitung.

"Keberadaannya sangat besar manfaatnya untuk Dinas PPA yang ada di provinsi dan kabupaten/kota.," ungkap Ihsan.

Dimana kata Ihsan akan sangat membantu sekali, kalau ibaratkan senjata itu ada tambahan amunisi.

"Forum ini sebagai amunisi tambahan bagi Dinas PPA di daerah. Karena sumberdaya manusia (SDM )yang ada di Dinas PPA di daerah sedikit. Sedangkan pesoalan yang berkenaan dengan anak, dan perempuan banyak," ungkapnya.

Adapun pesoalan yang ada di masyarakat diantaranya kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak dan perdagangan manusia (trafikiing) serta pemberdayaan ekonomi..

Menurut Ihsan, untuk fokus kerja dari forum Puspa ini lebih banyak terhadap persoalan pencegahan.

Ali Samsuri menambahkan, persoalan pertambangan ilegal keterkaitan dengan persoalan anak. Karena ada anak yang tidak sekolah, dan dia kerja di penambangan tambang ilegal.

"Anak ini ngelimbang TI, dan hasil yang diperolehnya ratusan ribu rupiah sehari. Hal inilah yang membuat anak tersebut tidak sekolah," ungkapnya.

Dikemukakan Samsuri sebagai pelajar dan generasi bangsa, dengan melihat kondisi seperti ini, hendaknya ada kepedulian dari semua elemen.

"Kasihan kalau melihat hal seperti ini, bila anak-anak ini terlena dengan penghasilan yang besar dan mereka meninggalkan bangku sekolah," jelasnya.

Penulis: agusrya
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help