BangkaPos/

RPG, Pasukan Khusus AS yang Legendaris Pernah Babak Belur Dibuatnya, Ini Kisahnya

Penggunaan alat tempur berupa peluncur granat (Rocket Propeled Granade/RPG) terbukti sangat mematikan ketika dioperasikan oleh para gerilyawan

RPG, Pasukan Khusus AS yang Legendaris Pernah Babak Belur Dibuatnya, Ini Kisahnya
Intisari

Pada awalnya bahan makanan yang dikirim kepada pengungsi terdistribusi secara lancar.

Tapi proses pengiriman bahan makanan itu mulai mendapat kendala ketika kelompok-kelompok pejuang Somalia melancarkan pencegatan dan merampas bahan makanan yang sedang dikirim.

Akibatnya kerap terjadi kontak senjata antara pasukan pengawal perbekalan dan para milisi bersenjata.

Bentrokan yang kemudian muncul tidak hanya antara pasukan PBB dan milisi dalam jumlah kecil tapi juga bentrokan antara para pejuang yang dipimpin oleh panglima tempur yang dikenal sebagai warlord.

Para pejuang yang kebanyakan merupakan bekas anggota militer itu memiliki persenjataan yang lengkap dan mampu bertempur secara terkoordinasi.

Untuk menghadapi setiap hadangan yang dilancarkan oleh para pejuang Somalia yang di mata pasukan PBB tidak berbeda dengan kaum teroris pengawalan pun makin ditingkatkan.

Pasukan PBB sendiri kemudian menamai para perusuh itu sebagai kelompok milisi bersenjata terorganisir yang belakangan berjanji tidak akan mengganggu lagi misi pengiriman bantuan kemanusiaan.

Tapi misi kemanusiaan PBB, terutama untuk bantauan pangan tetap saja sering tak sampai sasaran karena hadangan oleh para perusuh lainnya yang semakin nekat. Korban pun mulai berjatuhan di pihak pasukan PBB.

Salah satu kelompok milisi yang terdeteksi paling berbahaya dan berpengaruh di ibukota Somalia, Mogadishu adalah pasukan milisi yang dipimpin oleh Letnan Mohammed Farah Aideed.

Sebagai mantan anggota pasukan tempur yang berpengalaman, Aideed merupakan warlord (panglima perang milisi) yang tidak takut kepada kehadiran pasukan AS. Motor penggerak para milisi bersenjata ini harus secepatnya diringkus dan diadili.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help