BangkaPos/

RPG, Pasukan Khusus AS yang Legendaris Pernah Babak Belur Dibuatnya, Ini Kisahnya

Penggunaan alat tempur berupa peluncur granat (Rocket Propeled Granade/RPG) terbukti sangat mematikan ketika dioperasikan oleh para gerilyawan

RPG, Pasukan Khusus AS yang Legendaris Pernah Babak Belur Dibuatnya, Ini Kisahnya
Intisari

Karena dianggap operasi singkat dan ringan, personel Taks Force Ranger diperintahkan tak memakai rompi antipeluru dan pasukan di darat hanya diperintahkan membawa Humve, bukan ranpur angkut personel (APC) atau panser lapis baja.

Sesuai rencana kekuatan Task Force Ranger yang terdiri dari 19 helikopter , 12 kendaraan militer, dan 160 personel pasukan tempur segera bergerak menuju sasaran.

Empat personel SEAL yang berada dalam satu Humvee dan dikemudikan oleh anggota SEAL, Howard Wasdin mendapat tugas mengawasi operasi penerjunan pasukan sekaligus mengevakuasi personel seandainya ada helikopter yang berhasil ditembak jatuh.

Perkiraan akan tertembak jatuhnya helikopter sebenarnya berpeluang kecil tapi di lapangan situasinya ternhyata lain.

Wasdin yang mengemudikan Humvee sambil mengawasi jalanan mulai mencium situasi yang tak beres saat menyaksikan banyaknya milisi bersenjata yang bersembunyi di balik bangunan gedung.

Para milisi bersenjata itu tampak telah mempersiapkan diri untuk menghadapi pasukan PBB.

Melihat kenyataan itu, Wasdin menyimpulkan bahwa operasi rahasia untuk menangkap Aideed telah bocor.

Wasdin makin terperanjat karena beberapa milisi bersenjata dan bergerak dari gedung ke gedung itu ternyata memanggul peluncur roket, RPG. Senjata peluncur granat yang bisa merontokkan helikopter jika tembakannya tepat.

Kehadiran milisi bersenjata RPG itu makin memperjelas jika mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi pasukan PBB yang akan diterjunkan menggunakan sejumlah helikopter.

Apa yang dikhawatirkan Wasdin terjadi, ketika berlangsung operasi penurunan pasukan, mereka langsung disambut tembakan gencar dari berbagai arah.

Pilot Black Hawk yang membuat manuver untuk menghindari tembakan RPG bahkan mengakibatkan satu orang pasukan terlepas dari tali dan jatuh meluncur ke tanah.

Jatuhnya korban di pihak pasukan PBB membuat keadaan pasukan penyerbu mulai dilanda kepanikan.

Tim darat yang bertugas sebagai pasukan pendukung dan pelindung juga terhambat gerakannya akibat tembakan membabi buta milisi.

Gempuran senapan serbu AK-47 yang ditembakkan dari jarak dekat menjadi senjata mematikan bagi operator senapan mesin kaliber 60 mm Humve karena sebagian tubuhnya berada di tempat terbuka.

Korban di pihak pasukan PBB mulai berjatuhan dan heli tempur di udara terpaksa membalas serangan milisi dengan memuntahkan ribuan peluru senapan mesin Gatling-nya.

Tapi gempuran mematikan itu tidak mematahkan semangat tempur pasukan milisi yang beberapa di antaranya merupakan mantan pasukan militer yang terlatih.

Para operator RPG bahkan paham taktik untuk melumpuhkan Black Hawk, yakni dengan cara menembak bagian baling-baling ekornya (tail rotor).

Black Hawk Jatuh

Keadaan makin memburuk saat dua heli Black Hawk terhantam RPG dan meluncur jatuh. Wasdin dan tim SEAL segera mengarahkan Humve-nya ke heli yang jatuh.

Tapi begitu keluar dari kendaraan Wasdin dan kawan-kawannya langsung dihujani peluru senapan otomatis para milisi. Tim SEAL pun melancarkan tembakan perlawanan dan bertempur makin sengit.

Wasdin dan kawannya mulai menyadari bahwa mereka tak mungkin bisa keluar Mogadishu dalam keadaan hidup.

Tim SEALakhirnya memutuskan untuk memberikan perlawanan maksimal meskipun persediaan amunisi makin menipis sambil menunggu bantuan tiba.
Menjelang malam pasukan PBB terus terlibat pertempuran sengit dan hanya bisa berada pada posisi bertahan.

Sejumlah personel pasukan yang terluka parah tewas karena tidak segera mendapat bantuan medis yang memadai.

Jenazah pasukan yang dirampas oleh para milisi bahkan dimutilasi dan di arak keliling kota sebagai tanda kemenangan.

Esok harinya bantuan dari Task Force 2-14 Infantry dan US 10 Th Mountain Division yang dipinjami panser milik pasukan Malysia serta Pakistan tiba.

Personel SEAL yang rata-rata mengalami luka parah dan pasukan AS lainnya yang berhasil bertahan dalam sepanjang malam pertempuran segera di evakuasi.

Tapi karena para milisi terus berdatangan dan melakukan pengepungan rapat perlu perjuangan berdarah-darah untuk melaksanakan misi SAR tempur (Combat SAR).

Proses evakuasi itu sendiri berjalan lamban karena terus mendapat tembakan milisi.

Khusunya milisi bersenjata senapan serbu yang mengambil posisi di atap bangunan.

Berkat posisinya yang lebih tingi mereka bisa dengan mudah membidik pasukan PBB yang berada di dalam Humve.

Karena ranpur angkut personel terbatas hanya pasukan yang terluka yang diprioritaskan untuk diangkut.

Sejumlah anggota Delta dan Ranger yang masih sehat memutuskan mundur dari Mogadishu dengan berlari menuju base ops yang berjarak puluhan km.

Sebagai pasukan tempur yang terlatih berlari membawa beban itu merupakan hal biasa.

Tapi berlari di tengah-tengah kota yang penuh pasukan musuh merupakan tantangan tersendiri bagi pasukan berkualifikasi pasukan komando itu.

Namun, kahirnya mereka akhirnya bisa selamat menuju base ops yang telah disibukkan merawat pasukan yang tewas maupun luka.

Pemandangan itu merupakan mimpi buruk bagi pasukan khusus yang terpaksa mundur dari gelanggang pertempuran karena salah perhitungan dan strategi tempur.

Operasi pasukan PBB untuk menangkap Aideed akhirnya dinyatakan gagal. Sebanyak 18 personel militer AS tewas dan 73 personel lainnya luka-luka.

Jumlah korban tewas dan luka itu sebenarnya bisa diminimalkan jika sebelum berangkat rompi antipeluru dikenakan karena telah menjadi standar operasi di daerah konflik.

Sedangkan di pihak milisi dan penduduk sipil Mogadishu jatuh korban lebih dari 1000 orang.

Korban yang tidak perlu jatuh secara sia-sia jika pasukan PBB menerapkan strategi diplomasi yang tepat dan bukannya malah memicu perang dan menyebabkan tewasnya ribuan warga sipil.

Atas keberanian di medan tempur, Wasdin dan rekannya kemudian mendapat penghargaan Silver Star.

Setelah pensiun dari SEAL , Wasdin memutuskan bergabung dengan kepolisian Florida.(*)

Artikel ini tayang di intisari.grid.id dengan judul "Peluncur Granat, Senjata yang Bikin AS Babak Belur di Somalia, Termasuk Bikin Black Hawk Jatuh"

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help