BangkaPos/

Takut Istri, Anak Durhaka Biarkan Ibunya Kelaparan, 9 Tahun Berlalu Keduanya Syok Lihat Ini

Setelah menikah dengan Tung Tung, tampak jelas Ah Mei tidak suka dengan ibu mertuanya

Takut Istri, Anak Durhaka Biarkan Ibunya Kelaparan, 9 Tahun Berlalu Keduanya Syok Lihat Ini
Youtube
Ilustrasi (tidak ada hubungan dengan isi berita). 

Di jalan, ia melihat seorang kakek yang mendorong sebuah sepeda sambil menjajakan ubi bakar, ia heran ubi jalar di desanya biasanya untuk pakan ternak, tapi tak disangka di kota bisa dijual.

Nyonya Liu menghampiri kakek penjual ubi itu dan bertanya “Pak, ubi jalar ini bisa dijual ya ?”

Pak tua itu memandang sejenak nyonya Liu, melihat pakaiannya yang compang camping, ia pun bisa menduga nyonya Liu seorang wanita gelandangan, kalau bukan karena miskin, pasti diusir anak-menantunya.

Baca: Istri Cantik Artis Ngetop Disebut Rebut Suami Orang, Wanita Ini Naik Pitam Sampai Tulis Begini

“Ya, kalau kamu tidak mau mati kelaparan, lebih baik jualan sepertiku, lebih baik mengerjakan sesuatu daripada tidak sama sekali, janganlah mengemis, itu tidak baik bagi kesehatan,” kata pak tua itu.

Belakangan, atas bantuan kakek itu, nyonya Liu pun belajar memanggang ubi jalar.

Setelah tahu cara membuat ubi jalar panggang, si kakek kemudian membuatkan sebuah oven untuk nyonya Liu, membantunya membeli arang dan ubi jalar segar.

Dan setelah nyonya Liu sudah bisa Liu mandiri berjualan di jalanan, si kakek baru pergi dengan tenang.

Waktu berlalu dengan cepat, dalam sekejap mata sembilan tahun pun berlalu.

Selama sembilan tahun nyonya Liu menjual ubi panggangnya, orang-orang yang membeli ubi panggangnya pun tidak pernah sepi.

Sembilan tahun yang lalu, nyonya Liu meninggalkan desanya, tahun kedua, anak dan menantunya melahirkan seorang anak yang kini berusia 8 tahun.

Suatu hari ketika anaknya pulang sekolah, ia bercerita pada ayah dan ibunya, kalau nenek sudah makmur di kota, orang-orang desa mengatakan nenek sekarang mempunyai simpanan banyak uang di kota.

Tung Tung dan Ah Mei, istrinya terkejut mendengarnya, dan bertanya kepada anaknya dari mana kabar itu.

Anaknya pun bercerita kalau ia mendengar semua itu dari kepala desa yang baru kembali dari pertemuannya di ibukota provinsi.

Untuk lebih meyakinkan Tung Tung pun bertanya pada kepala desa.

Dan ternyata memang benar seperti yang dikatakan, bahkan ubi panggang nyonya Liu juga diliput media ibukota.

Selama sembilan tahun nyonya meninggalkan desanya, dan berhasil menabung dari hasil jualan ubi panggangnya.

“Tak disangka, ibumu begitu hebat, ayo kita jemput ibu, jangan sampai mengecewakan ibu.” Kata Ah Mei pada Tung Tung, suaminya.

Tung Tung yang terharu dan gembira bercampur aduk itu tentu saja senang menjemput pulang ibunya.

Suami istri itu kemudian pulang ke rumah, dan setelah berkemas, mereka segera naik kereta menuju ke ibukota.

Sesampainya di ibukota, kebetulan turun salju lebat.

Namun nyonya Liu masih menjajakan dagangannya.

Seiring dengan berlalunya waktu, nyonya Liu juga semakin tua. Tapi semangatnya menjual ubi panggang tidak berkurang.

Menjelang malam, ubi panggang nyonya Liu pun habis terjual.

Dari balik dinding kaca, orang-orang masih bisa melihat nyonya Liu di gerobak dagangannya.

Tapi tiba-tiba mereka melihat nyonya Liu tersungkur di bawah gerobaknya, sepertinya tertidur.

Beberapa orang merasa ada sesuatu yang tidak beres, lalu bergegas menghubungi nomor telepon darurat 120.

Tak lama kemudian dokter pun tiba di lokasi, setelah sekitar setengah jam upaya penyelamatan.

Namun, dengan menyesal sang dokter memberitahu bahwa nyonya Liu sudah meninggal.

Orang-orang yang berkerumun pun hanya bisa mendesah sedih.

Tepat pada saat itu, Tung Tung dan Ah Mei, tiba di hadapan nyonya Liu, dan mereka tak percaya dengan pandangan matanya setelah mendengar kabar buruk.

Hanya Tung Tung yang tampak meneteskan air mata, sementara Ah Mei justru sibuk membalikkan badan nyonya Liu mencari-cari tas sambil bertanya,

“Mana tabungan ibu mertua? Di mana, di mana? Siapa yang melihatnya?”

Orang-orang diam membisu setelah tahu mereka adalah anak dan menantu nyonya Liu.

Dan di antara kerumuman orang-orang itu muncullah seorang pria tua, yakni kakek yang pernah membantu nyonya Liu dulu, lalu berkata pada Ah Mei.

“Kamu menantunya nyonya Liu ya ?” Tidak perlu dicari lagi, uang yang dikumpulkan nyonya Liu selama ini, semuanya telah disumbangkan ke yayasan amal, total ada sekitar 516 juta rupiah, semua uang itu disumbangkan untuk orang-orang tua yang dicampakkan, tidak menyisakan sepeser pun untuk dirinya sendiri, yakni nyonya Liu.”

“Puji Tuhan! Benar-benar seorang yang baik hati!”, terdengar gema pujian dari orang-orang.

Sementara itu, Ah Mei duduk di atas tanah dengan kecewa, menghela napas dan berkata,

“Jauh-jauh kami ke sini, tapi tidak mendapatkan apa pun. Mengapa, mengapa ? Mengapa tidak menyisakan sepeser pun untuk kami ?”(*) (M Krisnariansyah)

Tulisan ini sudah tayang di tribunsumsel dengan judul: Anak Durhaka Tega buang Ibunya Sendiri Ke Jalan, 9 Tahun Kemudian Ia Menyesal, Ternyata

Editor: Alza Munzi
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help