BangkaPos/

'Aku Ingin Pulang' Kalimat Rosdi Sebelum Terkubur di Lubang Tambang Timah

Dinding tambang berkedalaman enam meter itu longsor dan mengubur dua pekerja yang sedang melakukan penyemprotan.

'Aku Ingin Pulang' Kalimat Rosdi Sebelum Terkubur di Lubang Tambang Timah
bangkapos.com/Riyadi
Ilustrasi Lokasi Tambang longsor 

BANGKAPOS, MANGGAR - Musibah terjadi di lokasi tambang di kawasan Aik Munti, Desa Mempayak, Kecamatan Damar, Belitung Timur, Kamis (5/10/2017). Dinding tambang berkedalaman enam meter itu longsor dan mengubur dua pekerja yang sedang melakukan penyemprotan.

Dua pekerja itu adalah Rosdi, warga warga Desa Aik Merbau Kecamatan Tanjungpandan dan Saefuloh, warga Kecamatan Babakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Keduanya ditemukan tak bernyawa sekitar pukul 17.00 WIB. Tubuh Rosdi dan Saefuloh berhasil dievakuasi tim Basarnas Pos SAR Belitung dan Tagana Beltim setelah terbukur selama kurang lebih tiga jam.

Adul, rekan kerja kobran, menuturkan ada lima saat kejadian ada lima pekerja yang sedang menambang di lokasi itu. Mereka bekerja dari pagi di lokasi tambang milik Atak Al Akli Amar, Warga Perawas, Kecamatan Tanjungpandan itu.

Proses evakuasi terhadap korban Sumarno (25) di lokasi tambang di Air Rengas Dusun Melintang Desa Mapur Kecamatan Riausilip Kabupaten Bangka, Kamis (9/2/2017). Sumarno ditemukan sudah meninggal, setelah tertimbun longsoran tanah di tambang tersebut, sejak Senin (6/2/2017).
Ilustrasi korban laka tambang. (IST)

"Di situ ada lima pekerja," kata Adul di Gedung Pemulasaran Jenazah, RSUD Beltim, Kamis (5/10) malam.

Kejadian itu bermula saat Rosdi bersama dua rekan lainnya berada di dalam kolong. Rosdi dan Saefuloh dilaporkan sedang menyemprot tanah di lokasi pukul 14.00 WIB. Sementara satu rekan lainnya, Mandra, sedang menahan tanah menggunakan kayu agar tidak longsor. Saat itulah tiba-tiba tanah longsor dan menimpa Rosdi dan rekannya, Saefulloh.

"Kondisi tanah tersebut, nayu, jadi rawan longsor. Itu tanah hidup," ujar Adul.

Rekan mereka satunya, bernama Mandra berhasil menghindar dan menyelamatkan diri lalu melaporkan kepada dua pekerja lain, yakni Adul sendiri dan pemilik tambang Atak, yang tengah tak berada di dalam kolong. Bersama Mandra, merekapun melakukan evakuasi secara manual menggunakan mesin semprot.

"Satunya ketemu sekitar jam 16.00, yang satunya agak lama sekitar jam 17.00 lah. Lubang itu kedalaman sekitar 6 meter. Satunya tertimbun di kedalaman setengah meter, yang satunya lagi kurang tahu saya," beber Adul.

Menurut Adul, Saefuloh baru bekerja di kolong maut tersebut sekitar tiga hari. Sementara Rosdi telah bekerja sekitar seminggu. "Kolong itu baru satu minggu. " ujarnya.

Sempat dilarang
Pantauan Pos Belitung di RSUD Beltim, Imi, istri korban Rosdi yang datang ke RSUD Beltim tak banyak berkata-kata ketika mendapat penjelasan dari dokter di RSUD Beltim, dr Reza. Rosdi dinyatakan meninggal murni kecelakaan. Tak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada jasadnya.

Mendengar penjelasan dokter, Imi hanya terlihat mengangguk-angguk sambil memegang satu dari tiga anaknya.

"Kami tidak melihat ada tanda-tanda kekerasan. Kami bisa simpulkan ini murni kecelakaan," ujar dr Reza.
"Ibu yang sabar," kata dia lagi.

Candra, kakak ipar Rosdi, menuturkan korban meninggalkan tiga anak. Dia mengatakan, tak bisa berbuat apa-apa dengan kejadian ini. Candra mengaku sudah mengingatkan adik iparnya itu agar tak bekerja menambang karena berbahaya.

"Di depan istinya juga pernah saya sebut, janganlah kerja kolong. Bukan apa-apa, gimana ya, yang namanya kolong itu, tidak ada (yang aman), pasti tetap rawan. Soalnya saya juga pernah kolong, dihantam tanah nayu (tanah yang mudah longsor). Itulah saya beri pelajaran. Kalau mau kerja buruh, saya siap masukkan kerjanya," tutur Candra yang kemudian banting setir menjadi sopir truk angkutan di Pelabuhan Tanjungpandan.

Rosdi meninggalkan tiga anak. Anaknya paling tua masih duduk di kelas III SD. "Anak-anaknya belum ngerti (kalau kehilangan orangtuanya). Keseharian korban biasa, ramah, dekat dengan saya," ujar Candra.

Berbeda dengan Candra yang mengaku tak mendapatkan tanda-tanda sebelum kepergian Rosdi, rekan korban Adul pernah bertutur ingin pulang ke rumahnya di Tanjungpandan.

"Dia begadoh (mengatakan), 'besok aku mau pulang' katanya. Aku bilang nanti saja pas malam Minggu," ujar Adul. (deq)

Editor: teddymalaka
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help