Meski Ungguli Thailand, Inovasi Indonesia Dibawah Negara Asia Tenggara

Harus ada revolusi mental. Jika potensi sumber daya manusia diasah, Indonesia akan menjadi negara yang kaya. Pendapatan yang

Meski Ungguli Thailand, Inovasi Indonesia Dibawah Negara Asia Tenggara
ist
Gubernur Bangka Belitung yang diwakili Ir Syahruddin (staf ahli) dan Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi memukul gong bersama-sama sebagai simbol membuka seminar nasional bertajuk ‘Inovasi Riset dan Teknologi Terapan untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan’ di Hotel Santika, Sabtu (07/10/2017) 

BANGKAPOS.COM -- Meski publikasi ilmiah internasional karya ilmuan Indonesia yang terindeks Scopus sudah menggungguli Thailand, namun dalam hal inovasi Indonesia berada jauh di bawah sejumlah negara di Asia Tenggara.

Berdasarkan Global Inovation Index (GII) atau Indeks Inovasi Global, Indonesia berada di peringkat 87; jauh di bawah Thailand (peringkat 51), Malaysia (37) dan Singapura (7). Posisi pertama di raih Swiss, disusul Swedia (2), Amerika (3) dan Inggris (4).

“Untuk mengejar ketertinggalan itu, kita harus bergerak cepat dan berlari kencang!,” tukas Dr Ir Muh Yusuf MSi, Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB) ketika memberi sambutan pada seminar nasional bertajuk ‘Inovasi Riset dan Teknologi Terapan untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan’ di Hotel Santika, Pangkalpinang, Sabtu (07/10/2017) pagi.

Seminar nasional yang digelar Fakultas Teknik UBB ini, dibuka resmi Gubernur Babel -- diwakili Ir Syahruddin (staf ahli gubernur)--, dan Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi -- yang didampingi Wakil Rektor II Prif Dr Ir Agus Hartoko MSc, Dekan FT Wari Sunanda ST M.Eng--, melalui pemukulan gong secara bersamaan.

Seminar nasional di Ruang Tanjung Kelayang 2 itu, diikuti 70 pemakalah dari 18 universitas di Indonesia.

Satu di antaranya berasal dari Universiti Teknologi Malaysia. Seluruh makalah seminar dikemas dalam proceding setebal 400 –an lebih halaman.

Empat pembicara kunci (keynote speaker) tampil diawal seminar dengan moderator Fadillah Sabri (Warek III UBB), adalah Gubernur Babel (diwakili Syahrudin), Susiana Mutia (General Manager PT PLN Bangka Belitung), Prof Dr Ir Sri Prabandiyani Retno Wardani MSc (Guru Besar Undip) dan Prof Dr Buhani (Guru Besar Unila).

Menurut Muh Yusuf, publikasi ilmiah adalah salah satu cara untuk menyebarkan hasil penelitian (riset).

Mengutip pendapat dari Ali Gufron Mukti (Direktur Jenderal Sumberdaya Iptek Dikti), Yusuf mengemukakan publikasi internasional Indonesia terindek Scopus sudah berada di atas Thailand.

“Per 3 Agustus 2017, jumlah publikasi internasional Indonesia sebanyak 9.501. Tapi, dalam hal inovasi, Indonesia masih kalah dengan sejumlah negara di Asia Tenggara. Setidaknya ada dua kelemahan ilmuan dalam melakukan komunikasi sains,” ujar Muh Yusuf.

Halaman
123
Penulis: Dody
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved